Sunan Kalijaga, Kompeni, dan Keris Kyai Kopek

Oleh: Kusno S. Utomo
Pertemuan antara keponakan dan paman itu diliputi suasana yang penuh emosional. Perpisahan lebih dari sembilan tahun tak membuat keduanya ingin melepas kangen. Justru keponakan dan paman itu saling terdiam. Mereka tidak bicara sepatah katapun.

Itulah gambaran pertemuan kali pertama Susuhunan Paku Buwono (PB) III dengan sang paman, Pangeran Mangkubumi di Lebak Jatisari pada 15 Februari 1755. Dua hari setelah Perjanjian Giyanti atau Palihan Negari diteken. Hari ini, peristiwa itu tepat terjadi 262 tahun silam.

Untuk memecahkan situasi itu, Direktur Jawa Utara Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Nicholas Hartingh memecahkan kebekuan dengan mengambil inisiatif bicara. Hartingh menggunakan bahasa Jawa untuk menyapa kedua raja tersebut.

Sejak meneken Perjanjian Giyanti bersama Hartingh yang mewakili VOC, Mangkubumi telah berubah status. Kedudukannya bukan lagi pangeran Keraton Mataram Surakarta dan pemimpin pemberontak. Dia telah menjadi raja setara dengan keponakannya bergelar Sultan Hamengku Buwono (HB) I.

“Selamat datang kepada saudara-saudara tercinta. Saat yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh semua orang sudah tiba. Perdamaian telah tercapai,” ucap Hartingh seperti ditulis dalam catatan hariannya.

Hartingh kemudian menggandeng tangan PB III dan HB I serta mengajak mereka berdiri. Kedua raja itupun saling memberikan salam dan berjanji untuk bahu membahu bersama VOC menumpas perlawanan Raden Mas (RM) Said. Sebelum Giyanti, RM Said adalah mitra koalisi Mangkubumi melawan VOC. Koalisi itu bubar setelah Mangkubumi memutuskan balik haluan.

Menutup pertemuan Jatisari, segelas bir pun diteguk. Masalah kembali muncul saat pertemuan berakhir. Ada ganjalan protokoler. PB III dan HB I tidak mau beranjak lebih dulu. Sebab, siapa yang beranjak lebih dulu berarti dirinya lebih rendah dari yang beranjak kemudian. Sebuah cara yang lazim dilakukan bila seseorang undur diri dari hadapan seorang raja.

Lagi-lagi Hartingh sukses membantu mencairkan keadaan dengan menepuk tangan kedua raja. Salam perpisahan dilakukan dengan berkali-kali berpelukan seraya meletakan kepala di bahu yang satu dengan yang lain.

Meski diliputi suasana emosi, dalam pertemuan itu PB III menghadiahkan sebuah keris untuk sang paman. Ketika menerimanya, Mangkubumi bertanya apakah keris itu sebuah pusaka. PB III menjawab keris tersebut bukan pusaka, tapi pernah dibawa ayahnya, PB II.

Belakangan keris itu diyakini sebagai Kyai Kopek yang diturunkan dari Sunan Kalijaga. Naskah-naskah berbahasa Jawa mengungkapkan, semula Mangkubumi meragukan keaslian keris itu. Keraguan itu sirna setelah ada penjelasan dari Pangeran Notokusumo, bekas patih PB II di era Mataram Kartasura yang dipulangkan dari pengasingannya di Srilangka ke Mataram.

Sunan Kalijaga rupanya menjadi figur cukup berarti di hati Mangkubumi. Kalijaga merupakan orang yang berhasil meyakinkan Sultan Hadiwijaya agar segera memberikan Bumi Mataram kepada Ki Ageng Pemanahan sesuai janji raja Pajang tersebut.

Belakangan, Mataram berhasil merebut hegemoni atas Jawa dari tangan Pajang. Peristiwa itu di mata Mangkubumi menjadi preseden yang mirip dengan Palihan Negari 1755. PB II awalnya berjanji memberikan tanah Sukowati. Janji itu rupanya tidak segera ditepati. Janji itu baru terealisasi setelah ada campur tangan pihak lain.

Mataram diberikan kepada Mangkubumi pada era PB III. Sejarah selalu saja berulang. Meski ada kemiripan, pelaku yang terlibat berbeda. Kesamaan atas kedua peristiwa yang berselang dua abad itu adalah pihak lain yang berasal dari pesisir. Sunan Kalijaga berasal dari Kadilangu, Demak, dan Hartingh memimpin Kompeni yang berpusat di Semarang.

Berpindah tangannya keris Sunan Kalijaga itu dinilai menjadi simbol pembagian Bumi Mataram.

Raja Mataram tak bisa dipisahkan dari pusaka. PB I segera mengumumkan pusaka tertinggi Mataram adalah Masjid Agung Demak dan makam Sunan Kalijaga saat tahu pusaka-pusaka penting kerajaan dibawa lari musuhnya Amangkurat III yang terdongkel dari takhtanya.

Kini keris Kyai Kopek menjadi bagian dari tiga keris pusaka ageng Keraton Jogja. Keberadaannya setara dengan tombak Kanjeng Kyai Ageng (KKA) Plered. Dua keris pusaka lainnya adalah KKA Joko Piturun dan KKA Sengkelat.

Keris KKA Kopek digunakan KGPH Mangkubumi saat naik takhta pada 7 Maret 1989. Keris itu selalu dikenakan HB X di setiap acara-acara penting kerajaan. Tradisi memakai Kyai Kopek tak dilakukan ayahnya, HB IX.

Sebab, HB IX lebih memilih memakai keris Kyai Joko Piturun yang diserahkan HB VIII di Hotel Des Indes, Batavia pada Oktober 1939. Ungkapan menyempurnakan keris Kyai Kopek dan Kyai Joko Piturun menjadi bagian dari lima isi Sabdaraja HB X pada 30 April 2015. (yog/ong)