RADARJOGJA.CO.ID – KULONPROGO – Jangan mandi di daerah terlarang. Larangan itu seharusnya menjadi perhatian setiap wisatawan yang berkunjung ke pantai. Karena nyawa menjadi taruhannya. Seperti tragedi di muara Sungai Serang, Pantai Glagah, Kulonprogo kemarin (15/3).

Nasib apes justru dialami dua wisatawan. Masing-masing Sukristianto, 21, warga Tlogowiro, RT 08/RW 04, Kapulogo, Kepil, Wonosobo, Jawa Tengah; dan Putra Kristanto, 18 asal Cengkareng, Tangerang.

Berniat menolong Muhammad Mahfud,12 (Jibungan, Kaliwuluh, Kepil, Wonosobo) yang terseret arus muara Sungai Serang, keduanya justru ikut tenggelam dan tewas. Beruntung bagi Budi Santoso, warga Glagah, yang juga berniat menolong Mahfud. Budi berhasil diselamatkan oleh Tim SAR.

Informasi di lokasi kejadian menyebutkan, Mahfud dan Sukristianto adalah pasangan murid dan guru SD Negeri 2 Kaliwuluh.
Musibah berawal ketika Mahfud nekat mandi di muara Sungai Serang yang sedang surut. Korban pun terseret arus dan tenggelam.

Mahfud sempat teriak meminta tolong. Mendengar teriakan muridnya, Sukristianto segera berusaha menolong. Namun nahas, kuatnya arus muara menyeretnya hingga tenggelam. Begitu pula yang dialami Putra Kristanto.

“Korban pertama (Sukristianto) berhasil ditemukan sekitar pukul 13.00. Jasadnya tak jauh dari titik hilang,” ujar Koordinator SAR Linmas Wilayah VJogjakarta Samsudin saat jeda proses pencarian korban.

Tak kurang 38 personel dari Pantai Trisik dan Congot diterjunkan dalam pencarian korban. Proses evakuasi dilakukan secara manual. Tim SAR pun menceburkan diri ke muara. Korban tewas kedua yang berhasil ditemukan adalah Putra Kristanto. Kedalaman muara yang mencapai enam meter dengan kontur dasar tidak rata membuat tim SAR kesulitan mencari jasad Mahfud.

Dikatakan, saat arus laut surut kondisi permukaan memang terlihat tenang. Namun, di bagian dalam arusnya justru sangat kuat. “Akhirnya kami turunkan tim penyelam,” jelasnya.

Jasad Mahfud baru bisa dievakuasi sekitar pukul 17.00. Korban ditemukan tim penyelam tidak jauh dari posisi terakhir saat tenggelam. Tubuhnya tersangkut di antara sela pemecah ombak di dasar muara. Sebelum diserahkan ke pihak keluarga, semua jenazah korban dibawa ke RSUD Wates.

Kepala Sekolah SD Negeri 2 Kaliwuluh Asrowi mengungkapkan, kejadian itu sangat tak disangkanya. Sebab, sesuai rencana rombongan tidak mandi di muara. Hanya melihat laguna dan pemecah ombak. “Saat itu sebenarnya kami sudah berkemas untuk pulang. Namun saat semua rombongan menuju bus, beberapa siswa termasuk korban turun lagi ke muara,” ungkapnya.

Menurut Asrowi, ada Sembilan anak yang mandi di muara. Namun hanya Muhammad Mahfud yang mandi terlalu ke tengah, sehingga terseret arus dan tenggelam. (tom/yog/ong)