RADARJOGJA.CO.ID – Pembangunan infrastruktur di DIJ tak hanya soal bandara internasional saja. Sampai dengan tahun 2019, setidaknya ada 16 infrastruktur besar yang wajib selesai. Tak tanggung-tanggung, nilai investasi pembangunan infrastruktur tersebut sama dengan bandara internasional, triliunan rupiah.

Ketua Dewan Pembina Tim Pembinaan Jasa Konstruksi DIJ Rusdiyana Lestari menjelaskan, pembangunan instruktur di DIJ akan dikebut sampai tahun 2019 mendatang. Total untuk tahun 2016 lalu saja, nilai pembangunan infrastruktur tersebut mencapai Rp7 triliun. Nilai tersebut akan bertambah kian besar seiring dengan pembangunan bandara dan jalan tol.

“Bandara sudah mulai. Kemudian, tahun 2018 akan mulai pembangunan jalan tol, pembangunan lingkar Kota Jogja, pembangunan Jetty di Glagah, Kulonprogo, embung, dan masih banyak yang lain,” ujar Rusdiyana dalam DiskusiNasional “Tantangan dan Implementasi UU No 2/2017 ” dalam rangka HUT LPJK DIJ ke-17 di Inna Garuda, Selasa (15/3).

Pengamat Ekonomi UGM Prof Mudrajad Kuncoro mengatakan, banyaknya pembangunan atau kontruksi tidak berbanding lurus dengan pengentasan kemiskinan daerah. Salah satunya di DIJ. Meski pembangunan di DIJ cukup masif namun ketimpangan kemiskinan masih tinggi.

Hal tersebut, lanjut dia, tak lepas dari penikmat kue pembangunan. Masyarakat menengah ke bawah yang menikmati kue pembangunan hanya 17 persen. Sedangkan masyarakat kelas mayoritas bisa menikmati pembangunan yakni 47 persen. “Tak heran jika gini ratio atau ketimpangan pendapatan di DIJ semakin tinggi. Yang kaya semakin kaya yang miskin tetap miskin,” jelasnya.

Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) DIJ Widodo Brontowijoyo tidak menampik pangsa pasar kontruksi di Indonesia masih sangat jomplang. “Kontraktor yang kecil-kecil jumlahnya lebih dari 100.000 kontraktor memperebutkan 20 persen kue saja,” katanya

Widodo mengutip data BPS 2013, yang menyebutkan di Indonesia terdapat 128.570 kontraktor aktif secara nasional. Rinciannya jumlah kontraktor kecil sebanyak 108.626 atau 85 persen. Jumlah kontraktor besar hanya dua persen atau 2.433 kontraktor dan 17.511 kontraktor menengah atau 14 persen. “Kontraktor besar dan menengah yang jumlah lebih sedikit dibanding kontraktor kecil, justru memperebutkan 80 persen pangsa pasar kontruksi,” jelasnya. (eri/mar)