RADARJOGJA.CO.ID –Polisi terus mendalami kasus bisnis tambang keluarga di Padukuhan Jentir, Desa Sambirejo, Kecamatan Ngawen. Setelah melakukan pemeriksaan sejumlah saksi, polisi menarik kesimpulan awal, usaha tambang tersebut tidak beres.

Kapolres Gunungkidul AKBP Nugrah Trihadi mengatakan, hingga kini penyidik sudah meminta keterangan tujuh orang saksi. Untuk kepentingan penyelidikan, petugas mengamankan sejumlah barang bukti.

“Dari hasil penyeledikan, kami meyakini ada indikasi penyalahgunaan izin penambangan di lokasi,” kata Nugrah Trihadi, Selasa (14/3).

Ia menjalaskan, keyakinan adanya pelanggaran hukum dalam tragedi tambang yang menelan dua korban jiwa pada 13 Februari 2017 berawal dari persoalan perizinan. “Ada indikasi penyalahgunaan izin. Itu yang hingga saat ini masih didalami,” ujarnya.

Hingga sekarang kepolisian belum melakukan pemeriksaan terhadap pemilik CV Utami. Seperti diketahui, pemilik CV tersebut adalah anak menantu dari dua korban meninggal dunia yang terkubur longsor. “Segera akan kami periksa. Kemarin belum diperiksa karena kemanusiaan mertuanya menjadi korban longsoran,” terangnya.

Lebih jauh dikatakan, kepolisian akan bekerja sama dengan Pemkab Gunungkidul untuk mendata ulang pemilik pertambangan di sejumlah wilayah. Dengan demikian, pelaku usaha tambang berizin dan ilegal dapat terdata dengan jelas.”Terkait upaya penanganan pasca-longsor di TKP, kepolisian siap membantu,” ucapnya.

Bupati Gunungkidul Badingah mengintruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait melakukan kajian di lokasi longsor. “Kajian penting dilakukan untuk mengetahui potensi longsor susulan,” kata Badingah.(gun/hes)