Hageding Nagari dan Batalnya Hari Jadi DIJ


Oleh: Kusno S. Utomo
Ada dua peristiwa penting yang terkait dengan sejarah dan takhta kasultanan terjadi pada Maret ini. Pertama, jumenengan dalem atau naik takhta Sultan Hamengku Buwono X pada 7 Maret 1989. Setelah bertakhta selama 26 tahun sebagai raja pada 30 April 2015, Hamengku Buwono X memutuskan mengganti nama dan gelarnya menjadi Hamengku Bawono Ka 10 melalui dekrit kerajaan bertajuk Sabdaraja.

Kedua, hadeging nagari (berdirinya) Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdasarkan kalender Masehi terjadi pada 13 Maret 1755. Semula momentum hageding nagari tersebut hendak diperingati sebagai Hari Jadi Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).
Mestinya kemarin, Senin 13 Maret 2017 diperingati sebagai Hari Jadi ke-262 DIJ. Pemilihan tanggal tersebut bertepatan dengan deklarasi Pangeran Mangkubumi mengumumkan nama kerajaannya, Ngayogyakarta Hadiningrat.

Mangkubumi yang telah bergelar Sultan Hamengku Buwono I menyampaikan pengumuman itu sebulan setelah dirinya bersama Direktur Jawa Utara VOC Nicholas Hartingh meneken Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Perjanjian tersebut memberikan pengakuan Mangkubumi sebagai raja dengan wilayah separo Bumi Mataram.

“Satu bulan pasca Perjanjian Giyanti, Sultan Hamengku Buwono memproklamasikan Hageding Nagari Dalem Kasultanan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat pada hari Kamis Pon 29 Jumadil’awal Be 1680 atau 13 Maret 1755. Ngayogyakarta Hadiningrat berlokasi di Hutan Beringan atau Pabringan,” sebagaimana dikutip dari Naskah Akademik (NA) Raperda DIJ tentang Hari Jadi DIJ yang batal disepakati DPRD DIJ dan Pemprov DIJ menjadi perda.

Dalam rapat-rapat kerja 31 Mei – 1 Juli 2016, pemprov menghendaki momentum Hageding Nagari Dalem Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu dijadikan sebagai Hari Jadi DIJ.

Namun sebagian besar fraksi-fraksi di DPRD DIJ tidak setuju. Dewan lebih memilih penetapan UU No. 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan DIJ pada 3 Maret 1950 sebagai opsi Hari Jadi DIJ.

Setelah buntu lebih dari empat bulan, pemprov dan dewan akhirnya berembug. Ada kesepakatan yang baru kali pertama terjadi dalam sejarah pembahasan perda. Kedua institusi itu sepakat untuk tidak sepakat menetapkan Hari Jadi. Raperda Hari Jadi disepakati tak akan lagi dibahas di parlemen. Akhirnya DIJ batal memiliki Hari Jadi. Kesepakatan ini berlangsung pada 30 Desember 2016.

NA Raperda Hari Jadi sebenarnya cukup lengkap memuat sejarah perjalanan hageding kasultanan. Namun tentang lokasi proklamasi saat Sultan Hamengku Buwono I mengumumkan nama kerajaannya belum tergambar secara jelas.

Petunjuk terkait itu dapat ditelusuri dari buku M.C. Ricklefs berjudul “Yogyakarta Di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792”. Disebutkan, sebelum ada kesepakatan damai, Hartingh beberapa kali bertemu dengan Mangkubumi. Hartingh mendatangi istana sementara Mangkubumi di Desa Giyanti di kaki Gunung Lawu, tenggara Surakarta.

Kepentingannya membahas penandatanganan perjanjian damai dan upacara penobatan Mangkubumi sebagai sultan. Ini terjadu pada 9 Februari 1755 atau empat hari sebelum perjanjian diteken.

Saat perjanjian diteken pada 13 Februari 1755, dengan sebuah Alquran di atas kepalanya, Mangkubumi bersumpah bahwa Allah dan Nabi Muhammad akan mengutuk dirinya dan keturunan-keturunannya jika mereka melanggar kesepakatan.

Selanjutnya perjanjian ditandatangani dan dicap. Dalam buku Harian Hartingh dan Babad Mangkubumi disebutkan sebagian dari pejabat-pejabat Mangkubumi tak punya cap untuk dibubuhkan di perjanjian.

Dengan Perjanjian Giyanti, Mangkubumi digelari sultan untuk setengah dari wilayah Jawa Tengah yang diakuinya sebagai suatu lungguh dari Kompeni. Putra-putranya diberi hak mewarisi takhta.

Mangkubumi berjanji menjunjung tinggi perjanjian antara Kompeni dengan raja-raja sebelumnya. Jika gagal menaati, tanah-tanahnya akan dikembalikan kepada Belanda yang kemudian boleh mengurus semau-maunya. Yang paling penting bagi Mangkubumi harus ada persatuan antara sultan dengan Belanda dan antara sultan dengan susuhunan.

Di Mancanegara (daerah luar) Mangkubumi menguasai 33.950 cacah (keluarga) dan Paku Buwono III menguasai 32.350. Masing-masing penguasa memerintah 53.100 cacah di daerah pusat. Wilayah mancanegara Paku Buwono III membentang ke arah barat (Banyumas) dan Mangkubumi ke timur.

Dua hari setelah itu, barulah diadakan pertemuan antara Sultan Hamengku Buwono I dengan Susuhunan Paku Buwono III. Lokasinya di Jatisari yang berada di titik pertengahan antara Surakarta dan Giyanti. (yog/ong).