RADARJOGJA.CO.ID – Pekerjaan nelayan rentan kecelakaan dan keselamatan jiwa. Namun sebagian besar nelayan di Kulonprogo ternyata belum paham pentingnya asuransi jiwa sebagai jaminan keselamatan kerja.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Diskepenak) Kulonprogo Sudarna usai penyerahan klaim asuransi nelayan di Kompleks Pemkab Kulonprogo.

Tahun ini pemerintah pusat sudah memulai memprogramkan pemberian asuransi bagi para nelayan di seluruh Indonesia menggandeng PT Jasindo. Asuransi jiwa itu dengan syarat pembayaran premi Rp 175 ribu per tahun.

“Setelah menjadi peserta asuransi, nelayan akan mendapat tiga jaminan. Jaminan jika meninggal dunia sebesar Rp 200 juta, cacat fisik Rp 100 juta, serta jaminan perawatan dengan klaim mencapai Rp 30 juta,” kata Sudarna.

Dijelaskan, untuk kematian klaimnya Rp 200 juta bila terjadi risiko saat bekerja. Jika risiko terjadi di luar pekerjaan sebagai nelayan, santunan masih bisa diklaimkan namun jumlahnya kurang dari itu.

“Asuransi jiwa sangat penting bagi nelayan untuk menjamin ahli waris atau keluarganya jika mengalami kecelakaan kerja,” kata Sudarna.

Menurut dia, sangat disayangkan jika para nelayan tidak mengambil kesempatan tersebut, karena pada kenyataannya memang masih banyak nelayan yang tidak memiliki asuransi jiwa dengan risiko pekerjaan seperti itu.

Pentingnya asuransi ini belum banyak disadari nelayan, terbukti minimnya respons saat ada informasi pemberian asuransi tersebut diberikan. Padahal mereka hanya diminta mengumpulkan data seperti fotokopi KTP, KK dan mengisi formulir.

“Padahal proses pengurusannya dilakukan petugas kami. Berdasarkan data, dari 670 nelayan pemegang kartu asuransi di Kulonprogo hanya 318 yang melanjutkan proses,” ujar Sudarna.

Pemahaman pentingnya jaminan asuransi jiwa ini harus dimasifkan. Jangan sampai terlambat atau harus menunggu ada kasus untuk pembelajaran.

“Untuk itu dalam kesempatan ini kami serahkan klaim asuransi kepada nelayan yang meninggal dunia. Dengan harapan nelayan lain bisa menyadari pentingnya asuransi bagi ahli waris mereka,” kata Sudarna.

Klaim asuransi senilai Rp 160 juta diserahkan kepada ahli waris Hadi Wiyono, 62, nelayan warga Dusun Imorenggo, Desa Karangsewu, Kecamatan Galur Kulonprogo yang meninggal 16 Februari 2017. Klaim asuransi Hadi tidak sampai Rp 200 juta karena meninggal bukan kecelakaan kerja.

Staf Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil dan PPI, Diskepenak Kulonprogo, Anggara Ariestyanta mengatakan program asuransi nelayan dari pemerintah pusat memang belum jelas berapa kuotanya.

“Dengan itu kami berharap, kuota yang tersedia cukup banyak. Sehingga para nelayan di Kulonprogo bisa ter-cover asuransi jiwa semuanya. Minimal 75 persen nelayan di Kulonprogo bisa ter-cover asuransi,” harap Anggara Ariestyanta. (tom/iwa/mar)