RADARJOGJA.CO.ID – Kenapa siswa atau pelajar di DIJ kini mulai beringas? Pertanyaan tersebut mulai terjawab setelah aksi klithih terus bermunculan. Hal ini terjawab dari keterangan salah satu korban Klithih di wilayah Sleman.

Witanto, 22, warga Krajan, Godean mengaku telah menjadi korban pembacokan pada Jumat (10/3) malam pukul 19.00. Dari cerita remaja yang telah bekerja itu, muncul sebuah fakta yang bisa untuk mencari akar permasalahan.

Dua orang berpenutup wajah yang memepetnya melontarkan pertanyaan, kepada dirinya. “Dia tanya sekolahmu endi? Dan saya menjawab saya sudah bekerja,” kata Witanto.

Kalimat tersebut menjadi tanda jika chauvinism atau kecintaan terhadap identitas seseorang telah membuat pelajar sampai nekad. Mereka seperti menganggap, pelajar lain beda sekolah adalah musuh.

Terlebih, dari penjelasan Witanto dirinya sempat berdebat panjang. Saat memasuki sebuah tempat yang bernama Bulak Bintik tepatnya di Jalan Sembuh Wetan. Pelaku klithih tampak tak puas dengan jawaban Witanto yang menegaskan dirinya sudah bekerja. Perdebatan di antara mereka terjadi hingga salah seorang yang dibonceng tiba-tiba menebaskan senjata tajam .

“Saya hanya bisa menangkis dengan tangan kiri. Mau minta tolong lokasi sangat sepi,” katanya.

Setelah pelaku menggeber motor kabur, Witanto berhenti. Saat itu, ia hanya merasakan tangan seperti dipukul namun tak merasakan sakit apapun. “Tetapi saat saya tengok ternyata lengan sudah terluka dan hampir sampai tulang,” jelasnya.

Sesampainya di rumah, Witanto langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan. Luka lebar sekira 10 sentimeter mendapatkan 15 jahitan. Kendati demikian, hingga kemarin dia tidak melaporkan kasus yang dialaminya ke polisi. Witanto lebih memilih mencari tahu informasi dari kalangan remaja lain.

“Biasanya pelaku klithih dalam waktu dekat akan menceritakan apa yang telah dilakukannya kepada orang-orang disekitarnya,” jelasnya. (bhn/eri)