RADARJOGJA.CO.ID Pengurukan lahan relokasi warga terdampak NYIA sudah hampir separo jalan. Warga yang ikut program relokasi diminta segera mulai membangun rumahnya.

Demikian disampaikan Kepala Bagian Pemerintahan Pemkab Kulonprogo Heriyanto usai pertemuan Rekompak Jogja dengan Pj Bupati Kulonprogo Budi Antono, Kamis (9/3). Rekompak merupakan pendamping warga yang ikut program relokasi.

Desa Glagah, Palihan dan Jangkaran masing masing sudah ada satu pedukuhan yang selesai pengurukannya. Warga didampingi Rekompak sudah bisa memulai membangun huniannya.

“Lahannya sudah ada pengukuran atau pengkaplingan juga sudah dimulai. Setelah dikapling masing-masing warga bisa mulai membangun rumahnya,” kata Heriyanto.

Sementara bagi warga yang belum mendapatkan kapling karena masih menunggu pengurukan yang tengah berjalan, bisa mencicil membuat kusen atau menganyam calon besi beton.

Setiap warga yang mengikuti program relokasi mendapatkan jatah tanah 200 meter persegi. Namun untuk tipe bangunan diharapkan mengikuti desain sesuai kemampuan keuangan masing-masing warga.

“Ada empat tipe rumah yang ditawarkan, yakni tipe 36, tipe 45, tipe 70 dan tipe 100. Nilai bangunan diharapkan dengan indeks Rp 2.200 ribu per meter perseginya,” kata Heriyanto.

Kepala Bidang Cipta Karya, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulonprogo Zahram Asurawan menjelaskan Rekompak sudah membentuk kelompok kerja warga.

“Rekompak sudah melakukan koordinasi dengan warga. Diharapkan pembangunan sudah dapat dimulai, di lokasi yang sudah diuruk,” kata Zahram Asurawan.

Sebelumnya, Pimpro Pembangunan NYIA Sujiastono berharap warga yang tidak ikut relokasi segera mengosongkan rumah dan tanah yang sudah dibayar ganti ruginya. Sujiastono tidak menyebutkan kapan batas waktunya.

Namun Humas PT Angkasa Pura Didik Catur mengatakan kemungkinan akan ada upaya paksa seperti saat pengosongan penginapan beberapa waktu lalu. Yaitu dengan mencopot pintu atau memutus sambungan listrik. (tom/iwa/mar)