RADARJOGJA.CO.ID – Dunia pendidikan di Kabupaten Bantul menghadapi situasi pelik. Itu menyusul terus menurunnya jumlah guru pegawai negeri sipil (PNS) di sekolah dasar (SD). Itu terjadi lantaran mereka telah memasuki masa pensiun setiap tahun. Hingga sekarang jumlah guru PNS hanya tersisa sekitar 50 persen dari total yang dibutuhkan.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul Totok Sudarto mengungkapkan, gelombang besar-besaran guru PNS yang memasuki pensiun bakal terjadi selama tiga tahun ke depan.

Puncaknya, pada 2019. Sebab, pengangkatan mereka bergelombang serentak melalui intruksi presiden. “Dulu ada pengangkatan periode 1976, 1977, dan 1978,” jelas Totok, Rabu (8/3).

Idealnya, kekurangan tenaga pengajar ini segera ditambal dengan rekrutmen CPNS. Hanya saja, pemkab tidak dapat merealisasikannya. Itu menyusul masih berlakunya moratorium rekrtumen CPNS.

Bagi Totok, bila dibiarkan kondisi ini dapat mengancam kualitas pendidikan di Bumi Projo Tamansari. Sebagai solusi sementara, Disdikpora selama ini banyak mengangkat guru tidak tetap (GTT). “Karena ada satu sekolah (SD negeri) yang hanya punya satu guru PNS,” bebernya.

Sekretaris Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Bantul Sahadi Suparjo mengamininya. Dia menyebut setidaknya ada 300 hingga 500 PNS di lingkungan pemkab yang memasuki pensiun setiap tahunnya. Ironisnya, hampir 80 persen di antaranya merupakan tenaga pengajar. “Sekarang total pegawai di Bantul tinggal 8911 orang,” sebutnya.

Sebagaimana Totok, Sahadi berpendapat kekurangan ini seharusnya segara ditambal dengan rekrutmen CPNS. Apalagi, setiap satu rombongan belajar di SD harus diampu guru kelas yang berstatus PNS. Sayangnya, kebijakan moratorium membuat pemkab tak berkutik. Walaupun porsi belanja langsung pegawai pada APBD 2017 telah turun menjadi 47 persen.

Terlepas dari itu, pemkab setiap tahun tetap berupaya mengusulkan pengisian formasi CPNS kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Tapi, upaya ini belum satu pun yang disetujui. “Dan pada 2017 dipastikan tidak ada (rekrutmen). Nggak tahu pada 2018 dan 2019 nanti,” ungkapnya. (zam/din/mar)