RADARJOGJA.CO.ID – Rentenir mengancam eksistensi pelaku usaha mikro kecil. Rentenir sering menjanjikan kemudahan dalam peminjaman namun dengan bunga tinggi. Pusat Koperasi Syariah (Puskopsyah) DIJ siap memberantas praktik rentenir tersebut.

“Kami memberikan modal kepada pengusaha mikro agar terhindar dari jeratan rentenir atau bank plecit dengan program Apex,” kata Ketua Puskopsyah DIJ M. Ridwan di sela rapat anggota tahunan Puskopsyah DIJ di Wisma Dharmais, Pengasih, kemarin.

Koperasi syariah yang kebanyakan berupa baitul maal (BMT) lahir untuk membantu usaha mikro. Amal usaha yang dilakukan lebih banyak menolong pelaku usaha mikro dan kecil.

“Mereka tidak sulit jika berurusan dengan perbankan, karena tidak banyak yang tidak memiliki agunan cukup. Apex ini ada untuk mereka, lahir dan tugas kami adalah memberantas rentenir,” kata Ridwan.

Berdasarkan data, dari 179 lembaga keuangan yang tergabung, ada sekitar 93 koperasi yang aktif dalam Puskopsyah DIJ. Mereka yang tidak aktif ada beberapa penyebab, kalah bersaing atau masih baru.

Wakil Ketua Puskopsyah Afifah Noor Hayati mengatakan koperasi syariah tidak hanya berkutat pada masalah pinjaman kepada anggota. Namun ada tugas mulia untuk melakukan pendampingan kepada kelompok.

“Setiap pelaku usaha selalu diajari bagaimana untuk tertib administrasi keuangan. Minimal mencatat setiap transaksi. Dari catatan ini, bisa bedakan mana uang usaha, mana uang keluarga,” kata Afifah.

Sekretaris Puskopsyah Bukhori Burhanudin mengatakan Kulonprogo harus bisa membidik peluang dengan bandara baru sebagai daya tarik. Koperasi syariah dan BMT siap masuk dan menjemput usaha dalam kaitan pembangunan bandara.

“Saat ini sudah ada sekitar Rp 3 milliar dan yang mampu dihimpun dari masyarakat terdampak. Di Kulonprogo ada 20-an koperasi syariah, dan yang sudah bergabung baru tujuh,” kata Bukhori. (tom/iwa/mar)