RADARJOGJA.CO.ID – Gempa kekuatan 8,2 SR menggucang Kulonprogo. Sejumlah bangunan roboh, gempa juga memicu tsunami. Warga panik, berusaha melakukan evakuasi mandiri. Demikian suasana yang tergambar dalam simulasi gempa dan tsunami di SDN Trisik, Desa Banaran, Kecamatan Galur kemarin.

Simulasi berjalan lancar, semua yang terlibat menghayati peran masing-masing. Berdasarkan skenario, SDN Trisik hanya berjarak 500 meter dari pantai merasakan gempa hebat.

Siswa menyelamatkan diri berlindung di bawah meja, dengan posisi tas di atas kepala. Mereka bertahan beberapa saat sebelum diarahkan menuju titik kumpul di halaman sekolah.

Setelah diinventarisir, dua siswa terjebak di kamar mandi dengan luka di kaki, tangan dan kepala, keduanya diselamatkan. Lalu muncul informasi tsunami datang.

Evakuasi dilakukan dengan mobil bak terbuka. Berkat kesigapan sekolah dan warga, gempa bumi dan tsunami ini tidak memakan korban jiwa.

“Semua siswa selamat dari tsunami, hanya beberapa mengalami luka. Tim gabungan melakukan penyisiran pasca gempa, memastikan tidak ada korban lagi dalam peristiwa itu,” kata Kepala SDN Trisik Purwanto.

SDN Trisik memiliki 57 murid, menggelar simulasi mandiri untuk menyandang status sekolah siaga bencana (SSB). Murid mengenali dan memahami cara menyelamatkan diri saat bencana terjadi.

“Setelah menyandang status SSB, materi pencegahan dan penanganan bencana masuk kurikulim. Karena kami ada di daerah pantai, maka kami fokus menghadapi gempa dan tsunami,” kata Purwanto.

Penjabat Bupati Kulonprogo Budi Antono mengatakan simulasi merupakan tahap pencegahan atau kesigapan. Simulasi sangat efektif karena murid mendapat bekal sejak dini.

Kepala BPBD DIJ Krido Suprayitno mengatakan DIJ memiliki 12 potensi bencana. “Masyarakat sekolah ikut belajar bagaimana menghadapi bencana,” Krido.

Hingga 2017 di DIJ sudah terdapat 16 SSB. Tahun depan, SSB untuk sekolah yang berada di daerah gempa dan tsunami difokuskan di Kulonprogo, Bantul dan Gunungkidul yang memiliki pantai.

Peserta simulasi, Afida Ramadhani Nurwahid, siswa Kelas V SDN Trisik mengatakan dia berperan sebagai korban jatuh saat menyelamatkan diri. “Saat masih belajar, gempa terjadi semua menjadi sunyi kami bersembunyi di bawah meja dan kemudian dievakuasi ditempat aman,” kata Afida. (tom/iwa/mar)