RADARJOGJA.CO.ID –Polres Gunungkidul menyelidiki kasus bisnis pertambangan maut di Padukuhan Jentir, Desa Sambirejo, Ngawen. Sejumlah orang mulai menjalani pemeriksaan intensif.

Kasat Reskrim Polres Gunungkidul, AKP Rudi Prabowo mengatakan, salah satu agenda pemeriksaan, terkait aktivitas tambang memicu longsor dan menelan korban jiwa. Selain itu, polisi juga ingin mengorek informasi prihal izin pertambangan.

“Sudah ada enam saksi diperiksa. Pemeriksaan sejak Senin dan dilanjutkan Rabu,” kata Rudi Prabowo, Selasa (7/3).

Hanya, Rudi irit bicara saat dikonfirmasi soal sejumlah nama yang menjalani pemeriksaan tersebut. Ia hanya menyebut, pemeriksaan dibagi dua tahapan. Pertama, minta keterangan lima orang saksi yang berasal dari pekerja di lokasi tambang. Kemudian, Selasa (7/3) giliran pemilik CV penambangan.

“Terperiksa merupakan orang yang berada di seputaran tambang. Mulai pemilik, sopir, hingga operator alat berat. Semua yang diperiksa ada kaitannya dengan aktivitas penambangan di Padukuhan Jentir,” ucap mantan Kasat Narkoba Polres Bantul itu.

Ia menjelaskan, proses pemeriksaan sebagai upaya mencari kepastian hukum terhadap aktivitas penambangan berujung maut. Sejauh ini, petugas belum bisa memutuskan untuk menaikan status dari penyelidikan menjadi penyidikan.

“Kami harus melihat konstruksi hukum dan fakta. Masih didalami, dengan melakukan pemeriksaan intensif. Yang jelas kami akan mengusut kasus ini sampai tuntas,” janjinya.

Ketua Komisi C DPRD Gunungkidul Purwanto mendukung upaya kepolisian mengungkap kasus pertambangan di Padukuhan Jentir yang memakan korban tersebut. Terlebih, ada dugaan pelaksanaan kegiatan pertambangan dilakukan ilegal.”Ini harus diusut sampai tuntas dan polisi harus bergerak untuk menyelesaikan. Apa lagi kasus ini sampai menelan korban jiwa,” kata Purwanto.

Sekedar mengingatkan, kisah pilu aktifvtas tambang longsor berawal dari binis tambang batu kapur yang dikelola anak korban yang meninggal dunia. Aktivitas penambangan dilakukan di lahan milik korban. Selama ini, anak korban memanfaatkan bukit kapur tersebut untuk lahan bisnis keluarga.

Jumat petang (3/3), sekitar pukul 18.30 bekas aktivitas penambangan tanahnya labil. Kemudian bergerak perlahan. Sejurus kemudian, bongkahan batu besar meluncur cepat dan menerjang apa yang ada di bawahnya.

Material longsoran menimbun alat berat, mengubur truk, dan meratakan rumah milik Manto Miharjo, 80, dan istrinya, Tugiyem, 75. Kedua korban ditemukan sudah tak bernyawa.(gun/hes)