RADARJOGJA.CO.ID Puluhan ibu-ibu rumah tangga mendatangi rumah kontrakan yang dihuni ladies companion (LC) di Pedukuhan Kriyan, Desa Karangwuni, Kecamatan Wates kemarin. Mereka menilai keberadaan perempuan pemandu lagu karaoke itu meresahkan.

Mereka mendatangi kontrakan dengan raut wajah resah dan penuh emosi. Mereka membawa kertas dengan tulisan penolakan. Beberapa berniat membuka beberapa kamar yang masih terkunci.

Poster yang mereka bawa bertuliskan: Kami Istri-Istri Sayang Suami, Kami Takut Sial, Tolak LC, dan Kami Ingin Damai. Aksi ibu-ibu resah ini berjalan tertib tanpa anarki.

Perwakilan warga didampingi anggota Babinsa (TNI) dan Babinkamtibmas (Polisi) melakukan pertemuan di dalam kontrakan. Salah seorang warga Kasminah mengatakan keberadaan LC bisa merusak hubungan rumah tangga.

“Saya sebetulnya sudah tidak punya suami (sudah meninggal). Tapi saya punya tanggung jawab kepada anak-anak saya. Pokoknya saya ingin mereka (LC) pergi. Belum lagi ibu-ibu yang masih bersuami, pagi sudah capek bekerja di sawah, pulang sampai rumah tidak bisa tidur, karena kepikiran suaminya tergoda para LC itu,” ungkap Kasminah.

Warga lainnya Eni Wuryani takut suaminya tergoda LC. “Kalau di sini pakaianya tidak sopan, pokoknya menggoda nafsu laki-laki. Ada yang melihat banyak lelaki yang datang, kadang sampai larut malam,” kata Eni.

Kepal Dukuh Kriyan Suradi Landung menjelaskan, rumah yang dikontrak merupakan rumah warga yang merantau ke luar kota. Para LC baru dua pekan mengontrak rumah tersebut.

“Mungkin ibu-ibu takut setelah ada LC mengontrak menjadikan banyak orang datang dan itu meresahkan,” kata Suradi.

Selama mengontrak para LC belum mengajukan izin ke pemerintah desa. Pandangan sumir tertuju kepada mereka, lantaran pekerjaan LC bagi warga desa identik hal negatif.

“Di desa kami memang ada karaoke, dulu warga juga meminta agar ditutup, yang jelas warga resah, itu saja,” kata Suradi.

Setelah dialog, hasilnya para LC bersedia meninggalkan kontrakan. Syaratnya uang kontrakan dikembalikan. (tom/iwa/mar)