RADARJOGJA.CO.ID – Aktivitas penambangan ilegal di wilayah RT VII Dusun Dukuh, Seloharjo, Pundong akhirnya benar-benar berhenti. Menyusul berangnya Kapolda DIJ Brigjen Ahmad Dhofiri setelah mendengar adanya dugaan keterlibatan Direktorat (Dit) Polair dalam kegiatan penambangan yang berjalan sejak Januari itu.

Kepala Desa Seloharjo Marhadi membenarkannya. Menurutnya, aktivitas tersebut berhenti sejak dua pekan lalu. “Sejak menjadi sorotan media, dihentikan” jelas Marhadi, Minggu (5/3).

Terkait kerusakan ruas jalan Jalan Nambangan-Geger yang rusak akibat terlindas truk muatan tanah yang lalu-lalang dari lokasi penambangan, pria yang akrab disapa Badrun ini selalu berujar bahwa penambang bersedia memperbaikinya.

Hanya, kini dia beralasan proses perbaikan masih terkendala ketersediaan aspal. Karena itu perbaikan jalan belum menyentuh semua ruas yang rusak. “Mereka sepenuhnya tanggung jawab, kok,” klaimnya.

Dengan berhentinya aktivitas ini, Marhadi mengaku tidak bisa bertindak apapun. Walaupun salah satu pemilik lahan mengalami shock berat, hingga akhirnya meninggal dunia. Menurutnya, pemilik lahan tambang memang menginginkan tanah miliknya yang berupa perbukitan diratakan. Agar dapat didirikan rumah hunian.

“Mereka tetap minta diratakan. Tapi, ya, mau bagaimana lagi,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, ada dua titik lokasi penambangan di RT VII Dusun Dukuh, Seloharjo, Pundong. Semula, Dit Polair hanya menambang di salah satunya. Material dari penambangan ini dijadikan sebagai tanah untuk menguruk lahan di belakang Mako Dit Polair yang amblas.

Tapi, seiring waktu berjalan aktivitas penambangan ini berhenti. Lantaran anggaran penambangan membengkak. Sehingga banyak material dibiarkan berserakan di sebagian ruas jalan Jalan Nambangan-Geger.

Hal itu dikeluhkan pengguna jalan yang merasa terganggu. Kemudian, Dit Polair bersedia membersihkannya dengan satu syarat. Asal diberi satu lokasi baru untuk ditambang. (zam/yog/mar)