RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Belum genap delapan tahun sejak diresmikan pada 1 Oktober 2009, kondisi bangunan Museum Gunungapi Merapi (MGM) kian memprihatinkan. Terutama saat terjadi hujan lebat. Bagai-mana tidak, atap gedung salah satu ob-jek wisata andalan Pemkab Sleman yang terletak di Desa Hargobinangun, Pakem itu bocor. Tentu saja kondisi itu mengu-rangi kenyamanan pengunjung. Selain lantai menjadi licin, adanya ember tadah tetesan hujan makin merusak suasana. Selain atap bocor, tembok beton penyang-ga atap mengalami retak. Padahal, ber-dasarkan catatan Radar Jogja, pembangu-nan seluruh infrastruktur bangunan dua lantai seluas 4.470 meter persegi itu memakan waktu hampir empat tahun.

Ironisnya, pemerintah tak segera ber-tindak demi mengatasi persoalan terse-but. Bahkan, terkesan saling lempar. Pe nanganan sementara hanya dengan memasang plester pada beton. Saat hu-jan deras, plester tak mampu menahan beban air sehingga tetap menetes.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan Sleman Aji Wulantaratak menampik masalah tersebut. Hanya, dia mengaku tak bisa berbuat banyak dengan alas an penge-lolaan museum melibatkan instansi lintas sektoral. Selan Pemkab Sleman, juga Pemprov DIJ dan Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, yang berkantor di Bandung.

“Kami tidak bisa gerak sendiri, karena wewenang ada di Badan Geologi. Tapi tim dari Bandung sudah datang dan mendata. Target renovasi secepatnya,” ucap bekas sekretaris Dinas Sumber Daya Alam,Energi, dan Mineral Sleman itu kemarin (5/3).

Dikatakan, kalkulasi perbaikan MGM membutuhkan dana sedikitnya Rp 500 juta. Fokus renovasi atap beton yang re-tak. Dilanjutkan mengganti eternit yang bocor.

“Keluhan dari pengunjung pasti ada, tapi kami tidak bisa berbuat banyak. Untungnya tidak menganggu aktivitas kunjungan. Hanya memang tidak sedap dipandang,” klaim Aji.

Atap bocor ternyata bukan satu-satunya persoalan di MGM. Museum yang be-risi koleksi benda-benda terdampak erupsi Gunung Merapi itu juga memi-liki banyak ruang kosong yang tak ber-fungsi. Bahkan, lantai keramik tampak mencuat meski tak pernah diinjak pen-gunjung maupun pengelola. Cat dinding ruangan pun mengelupas.

Melihat kondisi tersebut, Aji berharap pengelolaan MGM ke depan bisa dise-rahkan ke Pemkab Sleman secara total. Dengan begitu, pemkab bisa mengalo-kasikan anggaran perawatan dan per-baikan fasilitas rusak. Terlebih, pemkab menerima dana keistimewaan DIJ, yang salah satu alokasinya bisa digunakan untuk perawatan koleksi museum.

“Kontrak kerja sama dengan Badan Geologi sampai 2019. Ini akan menjadi bahan evaluasi kami,” lanjutnya.

Kabid Dokumentasi Sarana dan Pra-sarana Kebudayaan Wasita menambahkan, meski kondisi fisik MGM cukup mempri-hatinkan, hal itu tak mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung. Terbukti, jumlah kunjungan pada awal tahun ini mencapai 42 ribu orang per bulan. Semen-tara target kunjungan selama 2017 seba-nyak 350 ribu wisatawan. Dengan target pendapatan Rp 2 miliar. (dwi/yog/ong)