RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Sebanyak 25 orang imigran yang ditampung di Gedung Asrama Haji Jogjakarta, didatangi oleh petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) DIJ, kemarin (2/3). Imigran dari tiga negara Irak, Afganistan, dan Myanmar ini menjalani pemeriksaan tes urine sebelum dikirim menuju negara tujuan pengungsian.

Kepala Sub Bidang Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jogjakarta Ignasius Harto Suwondo mengatakan, mereka sebelumnya merupakan imigran gelap yang akan menuju Australia. Namun, belum sampai ke negara tujuan, mereka terdampar di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Mereka hampir dua tahun berada di Indonesia dan tingal menunggu pengiriman ke negara tujuan ,” jelas Ignasius usai pelaksanaan tes urine di Asrama Haji Jogjakarta.

Dijelaskan, para imigran sudah menjalani proses administrasi dan mendapat predikat sebagai pengungsi dari UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees). Saat ini, mereka sedang menunggu proses pemindahan.

Para imigran itu sebelumnya ditampung di beberapa rumah detensi imigrasi. Seperti rumah detensi imigrasi di Pekanbaru, Pontianak, Kupang, dan Surabaya.

Menurut dia, pemeriksaan urine sangat penting karena mereka merupakan warga yang belum mempunyai kewarganegaraan. Apalagi, para imigran ini tidak bisa kembali ke negara masing-masing karena alasan politik dan lain-lain.

“Sebelum mereka diberangkatkan ke negara tujuan harus bersih dari narkotika. Jika kedapatan memakai narkotika, maka tetap diproses hukum,” jelasnya.

Dia menjelaskan, penggunaan Asrama Haji Jogjakarta sebagai rumah penampungan para imigran hanya sampai Mei 2017. Sehingga, sebelum bulan itu mereka diberangkatkan ke negara ketiga.

“Keputusan kapan dan ke mana masih dalam proses administrasi oleh Direktorat Jenderal Imigrasi,” jelasnya.

Sementara itu, Kabid Berantas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIJ AKBP Mujiyana mengatakan, hasil pemeriksaan tes urine semuanya negative narkoba. Satu orang dicurigai menggunakan zat adiktif, namun setelah diperiksa berulang kali hasilnya tetap negatif.

“Semuanya negatif narkotika. Alat tes yang digunakan pun standar internasional,” jelasnya.

Di sisi lain, jelasnya dia berharap pemeriksaan tes urine juga bisa menyasar kepada orang asing yang berada di Jogjakarta. Tempat-tempat hiburan yang kerap dikunjungi orang asing. Salah staunya kawasan Prawirotaman akan menjadi tempat yang akan disasar.

Menurut dia, pelaku penyeludupan narkotika ke Indonesia kerap kali dilakukan oleh orang asing. Dengan upaya tersebut diharapkan DIJ bisa terlepas dari pengguna narkoba. (bhn/ila/ong)