RADARJOGJA.CO.ID – Polres Kulonprogo menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Simpatik Progo 2017 di Mapolres Kulonprogo, Rabu (1/3). Kegiatan tersebut untuk menekan angka kecelakaan.

Jumlah kecelakaan selama Februari 2017 menurun dibanding sebelumnya. Namun jumlah korban meninggal meningkat. Diharapkan angka kecelakaan bisa terus ditekan, salah satunya dengan menggelar operasi jalan raya.

“Operasi Simpatik Progo 2017 difokuskan di kawasan tertib lalu-lintas (KTL) salah satunya di Jalan Brigjen Katamso dan Jalan Diponegoro Wates,” kata Kasatlantas Polres Kulonprogo AKP Imam Bukhori usai gelar pasukan Operasi Simpatik Progo 2017 di halaman Mapolres Kulonprogo kemarin.

Jumlah kecelakaan lalu lintas di bulan Februari sebanyak 26 kasus dengan empat korban meninggal. Pada Januari ada 30 kasus lakalantas dengan tiga korban meninggal.

Polres Kulonprogo menerjunkan 140 personel yang berlangsung hingga 21 Maret 2017. Tidak hanya menekan angka kecelakaan, operasi ini juga meningkatkan ketertiban masyarakat berlalu lintas.

Kapolres Kulonprogo AKBP Nanang Djunaedi mengatakan ada beberapa pelanggaran yang menjadi sasaran operasi. Yakni masyarakat yang melanggar lalu-lintas berpotensi menyebabkan terjadinya fatalitas kecelakaan lalu-lintas.

Pelanggaran tersebut antara lain melawan arus lalu-lintas, pelanggaran rambu, serta pelanggaran batas kecepatan. “Ini menjadi prioritas kami selama 21 hari ke depan,” kata Nanang.

Menurut dia, dengan penegakan hukum terhadap sasaran prioritas tersebut, disiplin masyarakat berlalu-lintas bisa meningkat. Sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri.

Sehingga dalam operasi kali ini, fokus utamanya meningkatkan disiplin lalu-lintas dengan menyampaikan imbauan. Juga memberikan pemahaman tertib berlalu-lintas sejak dini.

Kulonprogo memiliki beberapa lokasi rawan kecelakaan. Semuanya berada di jalur jalan nasional.

“Di antaranya sekitar SPBE Dudukan di Sukoreno Kecamatan Sentolo, tikungan dekat SPBU Ngramang (Pengasih), dan wilayah Sindutan (Temon),” ungkap Nanang.

Personel yang dilibatkan terbagi beberapa Satgas. Antara lain Satgas Satu, Satgas Preventif, Satga Preemtif, Satgas Penindakan dan Pelanggaran, serta Satgas Bantuan.

“Kecelakaan yang terjadi di lokasi rawan tersebut kebanyakan human error. Banyak bus luar kota yang melanggar batas kecepatan, yang diawali dari pelanggaran marka jalan. Ini termasuk sasaran operasi,” kata Nanang. (tom/iwa/mar)