RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Peringatan 68 tahun peristiwa Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949, tak hanya sekadar mengingat peristiwa sejarah, tapi untuk penyemangat kaum muda saat ini. Termasuk untuk mempraktikkan semangat juang para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

Menurut Ketua Paguyuban Wehrkreis (Daerah Perlawanan) III Jogja L Soejono, peristiwa SO 1 Maret 1949 menjadi penanda jika RI masih ada. Meski setahun sebelumnya Belanda terus melakukan propaganda jika RI sudah tidak ada, dan jika ada serangan merupakan gerombolan liar.

Tapi, propaganda Belanda tersebut terbantahkan dengan SO 1 Maret 1949 yang berhasil menguasai Kota Jogja selama enam jam. “SO 1 Maret 1949 ini menandakan jika kita masih ada,” ujar Soejono ditemui seusai pembukaan pameran temporer Museum Benteng Vredeburg, kemarin (1/3).

Pria 70 tahun tersebut mengisahkan, peristiwa SO 1 Maret juga mematahkan anggaapan Belanda, jika pasukan yang melakukan penyerangan merupakan pasukan liar dan tidak terorganisir. Sebab, kenyataannya SO 1 Maret dilakukan dengan terorganisir dan tidak serabutan maupun spontanitas. Pasukan saat itu juga memprioritaskan nilai persatuan bukan kehendak pribadi.

“Generasi muda saat ini harus bisa seperti itu, terarah, tidak mudah dibelokkan, terencana, dan tidak spontanitas,” pesannya.
Hal yang sama juga diungkapkan Wakil Gubernur DIJ Paku Alam (PA) X yang meminta anak muda saat ini meneladani semangat kejuangan serta pemikiran para pendahulu.

Meski terdapat rentang waktu antara pejuang saat itu dengan generasi muda saat ini, tapi PA X berharap, mereka diberi ruang untuk mengapresiasi nilai-nilai para pejuang tersebut.

“Semangat dan pemikiran para pejuang itu yang bisa dijadikan penyemangat untuk lebih berkarya,” ujarnya.

Sementara itu, Komandan Korem 072/Pamungkas Brigjen TNI Fajar Setiawan juga mengingatkan semangat para pejuang saat itu gelorakan kembali di era kekinian. Menurut dia, semangat para pejuang dan rakyat saat itu harusnya bisa diteladani masyarakat untuk bangkit dan berbuat yang terbaik untuk negara.

“Peristiwa masa lalu bukan yang ditinggalkan begitu saja, tapi untuk disemangati oleh masyarakat saat ini dengan bekerja dengan baik,” pesannya.

Sedangkan Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri mengatakan, perang saat ini bukan lagi melawan penjajah. Tapi, perang melawan hoax di media sosial, kenakalan remaja hingga perkelahian pelajar.

Peristiwa SO 1 Maret yang terjadi di Kota Jogja, lanjut dia, harusnya juga membuat anak muda dan pelajarnya bangkit melawan tiga hal tersebut. “Jogja sebagai kota perjuangan, kota pelajar harusnya pelajarnya juga tidak suka tawuran,” ungkapnya. (pra/ila/ong)