RADARJOGJA.CO.ID – Kritik tajam ditujukan kepada media massa mainstream oleh ahli komunikasi massa Ashadi Siregar saat menjadi narasumber diskusi kebangsaan bertajuk “Media Massa dan Kebangsaan” di Tembi Rumah Budaya, Selasa (28/2).

Menurutnya, saat ini banyak media cetak maupun elektronik yang menjelma sebagai media partisan. Karena cenderung menyuarakan kepentingan pemilik atau kelompok tertentu yang berafiliasi.

“Ada yang berlatar belakang bisnis atau politik, tapi tetap mementingkan bisnis,” katanya.

Jika terus berlarut, Ashadi khawatir media massa tersebut bakal ditinggalkan pembaca maupun penonton setianya. Mengingat para penikmat konten berita dewasa ini kian cerdas. Sebagian di antaranya mampu membaca kepentingan arah pemberitaan.

Dengan kondisi itu, yang bakal merasakan dampak buruknya adalah media cetak. Alasannya, biaya produksinya paling mahal. Harga kertas sebagai bahan baku media cetak tak semahal frekuensi televisi maupun radio.

Nah, kondisi ini berbanding terbalik dengan iklim dunia massa di era penjajahan maupun pasca-kemerdekaan. Meski sebagian ada yang berafiliasi dengan partai politik tertentu, semangat yang diusung media massa saat itu adalah kebangsaan.

“Sekarang dekat dengan partai. Tapi, kepentingan yang dibicarakan sudah berbeda,” kelakarnya.

Dalam kesempatan itu, Ashadi juga mengkritisi Dewan Pers. Menurutnya, Dewan Pers saat ini lebih disibukkan dengan seluk-beluk akreditasi. Padahal, problem lain yang dihadapi lebih mengkhawatirkan. Yakni, maraknya informasi hoax.

“Seharusnya yang diurus itu media massa arus bawah yang notabene banyak memanfaatkan internet,” cetusnya.

Imam Anshori Saleh, narasumber lain mengungkapkan hal senada. Bekas Komisioner Komisi Yudisial ini mengakui cukup sulit mengukur kadar semangat kebangsaan yang diusung media-media partisan ini. Sebab, faktanya tak jarang misi yang diemban tidak berkaitan dengan semangat kebangsaan. Melihat sejumlah fakta ini, Imam pesimistis terkait semangat dan peran media massa dalam kebangsaan.

“Barangkali zaman seperti ini tidak diperlukan lagi pers yang berdimensi kebangsaan seperti pra dan pasca-kemerdekaan,” tambahnya.

Selain belasan wartawan sepuh, budayawan Emha Ainun Najib tampak hadir dalam diskusi yang digelar Perwara Wredhatama ini. (zam/mar)