RADARJOGJA.CO.ID – Tanpa kompetensi, warga Kulonprogo hanya akan menjadi penonton menghadapi kehadiran bandara. Mengantisipasi hal itu, Pemkab berupaya mendongkrak kapasitas sumber daya manusia (SDM) agar tidak kalah bersaing.

Salah satunya menambah kompetensi lulusan SMA di Balai Latihan Kerja (BLK) Kulonprogo. “Tahun ini kami menggelar 27 paket pelatihan. Empat melalui dana APBD, sisanya melalui dana APBN. Semua Pelatihan Berbasisi Kompetensi (PBK), sehingga masing-masing paket hanya diikuti 16 siswa,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kulonprogo Eko Wisnu Wardhana kemarin.

Misalnya untuk pelatihan desain grafis. Mereka yang awalnya tidak bisa komputer atau hanya menguasai Microsoft Word dan Microsoft Excel kini bisa berkembang membuat suvenir, tanggalan dan sebagainya.

“Jadi silakan teman-teman warga Kulonprogo yang ingin meningkatkan kompetensi silakan mendaftar,” kata Eko Wisnu.

Bekerja di perusahan atau berwirasusaha membutuhkan kompetensi. Jika berkompeten, maka daya saing mereka lebih siap.

“Kendati gratis namun kami memang melakukan pendaftaran, fungsinya untuk melihat animo. Ternyata animo cukup tinggi. Untuk pelatihan desain grafis 57 pendaftar, tata boga 70 pendaftar, las industri lanjutan 49 pendaftar, padahal setiap kelas hanya diambil 15 peserta,” kata Eko Wisnu.

Diharapkan setelah mengikuti pelatihan mereka bisa berwirausaha mandiri atau berkelompok. Atau ikut perusahaan yang mereka inginkan di Kulonprogo atau di luar Kulonprogo.

“Bandara juga menjadi peluang, mereka bisa bekerja di dalam atau di luar bandara. Untuk dana APBD ada empat pelatihan, tiga sudah terisi, salah satunya adalah bahasa Inggris, dan rencana baru buka September 2017,” kata Eko Wisnu.

Kendati syarat pendaftaran tidak dibatasi usia, target sasarannya adalah mereka yang baru lulus SMA. Termasuk yang lulus kejar paket yang direncanakan ada pendaftaran pada Juli-September 2017. Mereka yang lulus mendaftar dan diterima kuliah bisa melanjutkan pendidikannya.

“Kami juga bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) untuk melakukan pendataan,” kata Eko Wisnu.

Dikpora dalam waktu dekat akan mengirimkan surat ke sekolah-sekolah. Masing-masing sekolah diharapkan memiliki buku album, sehingga bisa terdata siswanya.

Kepala UPTD Balai Latihan Kerja, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinasnakertrans) Kulonprogo, Sri Sulanjari mengungkapkan, selama berada di BLK peserta akan menjalani pelatihan selama 30 hari, dalam sehari latihan dalam waktu 10 jam. Mereka yang lulus akan diikutkan dalam uji sertifikasi kompetensi, jika berhasil lulus mendapat sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

“Kami juga akan coba sambungkan dengan perusahan jika memang menginginkan bekerja di perusahaan. Kalau ingin beriwirausaha mereka sudah memiliki kompetensi dan sertifikat memadai,” kata Sri Sulanjari.

Salah seorang peserta pelatihan, Aan Ariwibowo, 20, warga Plumbon, Temon mengatakan, baru seminggu ikut pelatihan Las Industri Lanjutan di BLK Kulonprogo. Lulusan Jurusan Teknik Pengelasan SMK Muhammadiyah Kulonprogo ini memiliki motivasi untuk menambah kompetensi dan pengalaman.

“Pinginnya bisa usaha sendiri. Kalau bisa masuk proyek bandara tidak apa-apa. Pelatihan di sini lebih detail, banyak teori di bangku sekolah yang bisa diterapkkan dan diasah di sini,” kata Aan.

Peserta lain, Susilowati mengungkapkan, dia ingin membuka wisarausaha sendiri. Membuka usaha oleh-oleh khas Kulonprogo untuk menangkap peluang keberadaan bandara. Dalam bayangannya Susilowati ingin membuat keripik pizza atau mi ayam khas Kulonprogo.

“Saya ingin bisa membuka usaha boga. Namun saya akan lihat peluang dulu, yang jelas ingin membuat oleh-oleh khas untuk wisatawan,” kata Susilowati. (tom/iwa/mar)