Sindiran dan Kritik Sosial lewat Goresan Pena hingga Curahan Cat Air

Lama tak terkesan mati suri, Paguyuban Kartunis Yogyakarta (PAKYO) kembali bangkit ke muka publik melalui pameran “Kartunistimewa”. Tak tanggung-tanggung, PAKYO menampilkan sentilan sosial melalui karya 43 kartunis dari tiga generasi.
VITA WAHYU HARYANTI, Jogja.
Ajang kangen. Kehangatan suasana tampak dalam karya PAKYO lintas generasi 1980, 1990, dan 2000.

Sejak 2015 PAKYO memang tidak menunjukkan kegaharan karya-karya mereka. Namun sekali tampil ke publik tampaklah gaung atas karya para kartunis lokal Jogjakarta.

Menilik sejarah PAKYO sekitar 1979-an, banyak kartunis handal menelurkan karya-karya lucu mereka. Tak sedikit yang menghiasi halaman media cetak yang menyediakan ruang kartun. Itu dulu. Seiring berjalannya waktu PAKYO justru jarang muncul. Menyadari masih punya semangat berkarya, anggota PAKYO berusaha menunjukkan eksistensi mereka melalui pameran di Bentara Budaya Yogyakarta. Ajang yang dihelat 11-19 Februari itu menampilkan karya 43 kartunis lintas generasi dengan tema beragam. Bahkan, teknik dan medianya juga beraneka macam. Mulai konvensional hingga modern.

“Kami sengaja mengangkat isu-isu publik yang sedang ngetren di Indonesia,” ujar Kuss Indarto, salah seorang illustrator anggota PAKYO. Adapun, isu yang dimaksud seperti pemilihan kepala daerah, korupsi, kekerasan rumah tangga, dan masih banyak lagi.

Semua isu dikemas halus melalui goresan pena maupun cat air para kartunis, yang sebagian mengandung unsur kritik, sekaligus sindiran atas sosial.