Sejarah tercipta bagi PDI Perjuangan Kota Jogja dalam Pilwali 2017. Partai pengusung pasangan calon (paslon) Imam Priyono-Achmad Fadli ini tidak melakukan pengerahan massa yang menjadi tradisi partai berlambang banteng moncong putih. Obrolan angkring menjadi gaya baru kampanye pasangan nomor urut satu itu.

BAHANA, Jogja

RUMAH aspirasi paslon IP-Fadli di Jalan Melati Wetan, Gondokusuman terlihat ramai memasuki masa tenang. Beberapa orang yang menjadi tim sukses (timses) berada di gedung bertingkat dua lantai itu.

Tampak Ketua Badan Pemenangan Pemilu Dewan Pimpinan Cabang PDIP Kota Jogja Antonius Fokki Ardian terlibat pembicaraan serius dengan anggota timses di ruang tamu. Tak berapa lama, IP hadir bergabung di ruangan itu.

Sore itu tengah digelar rapat jelang pelaksanaan Pilwali Jogja yang hanya tinggal menghitung hari. Beberapa orang menyebut nama ketua timses IP-Fadli, Danang Rudiyatmoko, yang belum hadir. Keberadaan Danang memang ditunggu-tunggu saat itu.

Selang beberapa lama, wajah Danang terlihat di ruang itu. “Habis dari ngecek persiapan saksi-saksi buat tempat pemungutan suara (TPS),” ujarnya kepada sejumlah orang di ruang tamu.

Usai menggelar rapat kecil bersama beberapa anggota, Radar Jogja berkesempatan menemui Danang. Wajah Ketua Fraksi PDIP DPRD Kota Jogja itu tidak tampak segar. Terlihat raut muka yang kelelahan.

“Selama masa kampanye ini tidur kepagian. Jadi kurang tidur,” kata Danang.

Tidak hanya dia yang kurang tidur, hampir sebagian timses yang terlibat mengalami hal yang sama. “Metode kampanye yang kami jalankan 24 jam,” jelasnya.

Jika calon tetangga kampanye, maka timsesnya harus melihat situasi dari pukul 07.00 hingga 23.59. Saat mendapat kesempatan kampanye, sejak pukul 00.00 timnya sudah bergerak.

“Tim yang belum tidur bergerilya menyosialisasikan ke warga yang belum juga tidur seperti para peronda,” katanya.

Sehari, ada sekitar 15 agenda kampanye yang telah disiapkan untuk IP-Fadli. Ada sekitar 60an timses yang terdaftar di KPU Jogja.

Tim, sebutnya, mulai bergerak mengawal IP-Fadli kampanye dari pukul 07.00 hingga malam hari. Pagi hari, kampanye dilakukan dengan sarapan sekaligus menyapa warga dilanjutkan blusukan ke titik-titik yang telah ditentukan. Malamnya, kampanye digelar menyambangi warga dan warung angkringan.

Obrolan angkring, jelasnya, menjadi ciri khas IP maupun Fadli dalam kampanye kali ini. Kampanye blusukan memang terbilang baru bagi PDIP Jogja. Partai ini memiliki tradisi unjuk kekuatan massa.

Meski tak melakukan unjuk kekuatan, kampanye blusukan yang dilakukan dinilai Danang cukup efektif. Lebih apa adanya.

Dibanding dengan kampanye di balai-balai RW, kampanye obrolan angkring bisa lebih mengena karena digelar tidak formal. “Warga tak perlu dandan. Apa adanya ketemu kami,” jelasnya.

Dia menjelaskan, obrolan angkring akan tetap dipertahankan bila pasangan ini menjabat. Keduanya akan tetap menjaring aspirasi dengan turun ke lingkungan warga.

Pada kampanye kemarin, IP-Fadli bisa dibilang kompak dalam bergerilya menyapa warga. Sampai kostum yang digunakan pun serasi. Batik putih dengan berbagai motif menjadi ciri khas. “Timses telah menyiapkan tujuh pasang bagi keduanya,” ungkapnya.

Batik itu, lanjutnya, merupakan pemberian salah satu pedagang pasar yang dulunya menjadi anak asuh Fadli saat masih menjabat Kepala Dinas Pasar Jogja. Kemeja itu hasil sumbangan. Ada 14 kemeja yang diberikan untuk keduanya. “Jadi bila satu kering enamnya basah,” katanya sambil terkekeh.

Soal kampanye terbuka yang tidak dilakukan, Danang mengakui hal itu diluar kebiasaan PDIP. “Ya rasanya memang seperti belum kampanye. Karena itu tradisi kami dari dulu,” jelasnya.

Diungkapkan, dia sempat mendapat protes dari akar rumput kader partai karena tak menggelar kampanye terbuka.Menurutnya, kampanye dialogis yang dilakukan menjadi pendidikan politik bagi PDIP.

“Pendekatan dialogis membuat warga lebih mengenal visi-misi calon yang diusung. Kini kami terlihat dinamis dan lebih blusukan,” jelasnya. (ila/bersambung/mg2)