MAGELANG – Polemik pemasangan papan bertuliskan lahan milik Sultan Grond (SG) di kawasan Jalan Sidotopo, Kedungsari, Magelang Tengah, Kota Magelang, berlanjut. Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito menegaskan bahwa papan itu dipasang secara ilegal.

Menurut Sigit, siapa pun dilarang keras memasang papan untuk mengakui kepemilikan lahan.”Saya katakan (klaim Sultan Grond, Red) itu illegal,” katanya kemarin (10/9).

Ia mengatakan, jika tidak ada sertifikat, maka siapa pun dilarang mengakui tanah orang lain. Termasuk milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) sekalipun. Ia memberikan peringatan keras agar persoalan ini tidak melebar dan menimbulkan keresahan warga. Terlebih saat ini warga yang tinggal di kawasan itu sudah tenang dan tidak terjadi gejolak.

“Kalau sampai menimbulkan keresahan masyarakat, kami siap turun tangan. Memang harus seperti itu, pemerintah akan selalu hadir,” jelas Sigit.

Menanggapi kondisi itu, ia mengimbau masyarakat di kawasan Sidotopo tetap tenang, tidak khawatir terkait adanya papan klaim tersebut. Pemerintah siap memberikan pengawalan untuk menyelesaikan persoalan ini. Diharapkan ke depan ridak menimbulkan keresahan di masyarakat.

“Saya sangat menyayangkan. Kita kan negara hukum, situasinya juga kondusif, masyarakatnya tenang. Jangan sampai menimbulkan keresahan,” kata Sigit.

Menurutnya, kasus semacam ini bukan hal baru di Kota Magelang. Kawasan pecinan sempat menjadi incaran oknum yang mengaku memiliki tanah di bekas rel kereta api itu. “Saya ingatkan dulu, termasuk PT KAI juga. Dasarnya apa. Jangan semena-mena, harus ada legalitasnya,” tegas Sigit.

Seperti diberitakan, di Jalan Sidotopo itu tiba-tiba muncul papan yang mencantumkan tulisan pemberitahuan tanah ini milik SG. Hak milik ahli waris turun-temurun HB VII berdasarkan Undang-Undang Rijksblad No 16 Tahun 1918. Di papan itu juga menjelaskan bahwa tanah SG bukan hak milik pemda, bukan hak milik negara, bukan hak milik lembaga/institusi, bukan hak milik BUMN/PT KAI Persero.

Selain itu juga tertulis RM Triyanto Prastowo Sumarsono dengan No Kode: VII.A-13,B-18c-1,D-3. Ahli waris turun temurun, Hamengku Bowono VII. Warga setempat rata-rata tidak tahu siapa yang memasang papan nama tepat di depan persis papan nama PT KAI itu.

Tertulis juga nomor telepon di papan itu. Namun saat koran ini mencoba konfirmasi, nomor telepon tang tercantum tidak bisa dihubungi. Ternyata nomor kontak itu tertulis jumlahnya 13 digit.”Jadi tidak bisa dihubungi,” ujar seorang warga, Arif. (ady/laz/mg2)