RADARJOGJA.CO.ID – Ada banyak jalan menuju kesuksesan. Biasanya jalan kesuksesan itu tidak menggunakan jalan yang populer atau mindstream. Ini pula yang dilakukan pemilik warung bakmi Mbah Mo, Murlidi. Lelaki yang akrab disapa Mbah Mo ini menggunakan jurus antimarketing.

Bentuknya, mulai dari pemilih warung Mbah Mo yang terletak di Dusun Code, Trirenggo, Bantul. Jaraknya jauh dari pusat Kota Jogja, kira-kira 15 kilometer. Untuk sampai ke warung itu bukan perkara gampang. Tak ada papan petunjuk yang menerangkan lokasi warung. Akibatnya, tidak sedikit calon pembeli yang tersesat karena salah jalan.

“Itu memang saya sengaja. Makin banyak yang keblasuk (tersesat), makin baik. Orang yang tersesat akan bertanya ke orang lain. Keuntungannya, bakmi Mbah Mo otomatis makin dikenal,” ucap Mbah Mo saat berkunjung ke Radar Jogja pada Selasa (31/1) lalu.

Tidak hanya itu. Begitu sampai di warung itu, pembeli tak lantas mendapatkan layanan. Mereka harus antre kurang lebih dua jam lamanya. Sebab, rata-rata pembeli yang datang harus menunggu antrean hingga 40 porsi.

“Menunggu itu sama saja melatih orang bersabar,” kata pemilik nama asli Murlidi itu.

Mbah Mo lantas berbagi cerita dan pengalaman menekuni usaha warung bakmi. Selama ini, dia sengaja menggunakan kiat antimarketing. Ilmu yang dipraktikkan berseberangan dengan cara-cara orang marketing.

Lokasi usaha merupakan salah satunya. Selain di pelosok dusun, Mbah Mo punya beberapa tempat-tempat favorit membuka usaha. Di antaranya di dekat traffic light dan palang pintu kereta api.

Bagi orang lain menghindari dua lokasi itu untuk tempat usaha. Namun tidak demikian halnya dengan Mbah Mo. Dua tempat itu justru menjadi favoritnya. “Kenapa saya pilih, karena harga sewanya pasti murah, wong ora dilirik wong liya (karena tidak dilirik orang lain),” kilahnya.

Jurus antimarketing itulah yang menjadi bagian kunci sukses Mbah Mo. Usahanya berkembang luas. Ada puluhan cabang bakmi Mbah Mo tersebar di banyak tempat. Jurus-jurus praktik itulah selalu dibagi Mbah Mo kepada orang orang lain. Termasuk memotivasi setiap orang untuk berani membuka usaha.

Maklum sejak beberapa tahun lalu, Mbah Mo bukan hanya sibuk dengan usaha bakmi. Kini dia telah menjadi motivator dan konsultan bisnis. Saat berbagi pengalaman itu, Mbah Mo merasa senang jika pesertanya didominasi anak-anak muda. Menurut dia, membuka usaha harus dimulai sejak dini.

“Tidak ada kata terlambat menjadi wirausaha,” kata pria asal Kintelan, Jogja ini.

Dengan menjadi wirausaha, anak muda telah menciptakan lapangan usaha sendiri. Mereka tak harus tergantung dengan orang lain.

“Lapangan kerja bisa diciptakan. Punya usaha sendiri tak perlu takut kena semprot atau sanksi atasan. Hidup jadi lebih enjoy dan merdeka,” tutur pria yang membuka jasa konsultasi bisnis setiap malam mulai pukul 19.00 di warung bakmi Mbah Mo Duajaman Jalan Parangtritis, utara perempatan ringroad tersebut.