RADARJOGJA.CO.ID – Banjir yang sering melanda wilayah Bantul mendorong pegawai Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) setempat memutar otak untuk mengantisipasinya. Hal itu tak bisa dipungkiri mengingat Bantul berada di bagian hilir wilayah DIJ. Sehingga wilayah paling selatan itu kerap mendapat banjir kiriman dari Sleman dan Kota Jogja. Terutama saat musim penghujan seperti sekarang.

Parahnya, banjir kiriman kerap membawa tumpukan sampah.

Kondisi itulah yang mendorong DPUPKP membentuk satgas operasi pemeliharaan (OP). Satgas bertugas membersihkan sampah yang menghambat laju air bendungan.

Seperti terlihat di Bendung Timbulsari, Timbulharjo, Sewon, Selasa (31/1). Bendung yang dilintasi aliran Sungai Winongo ini selalu menjadi bak sampah setiap kali wilayah hulu diguyur hujan lebat. “Volume (sampah) bisa mencapai 250 kubik. Ada yang tersangkut di dasar sungai,” jelas seorang anggota Satgas OP Agus Sutopo.

Butuh waktu sekurang-kurangnya tiga hari untuk membersihkan setiap bendungan. Pekerjaan berat terjadi di bendungan yang tak bisa dijangkau alat berat. Sehingga proses pengerukan sampah harus dilakukan secara manual.

Dengan gaji Rp 1,4 juta per bulan, dipotong iuran BPJS Kesehatan, tujuh personel satgas OP memiliki tugas lain membersihkan rumput di sekitar bendungan. Total ada 13 satgas.

Kasi Saluran Irigasi DPUPKP Bantul Yitno menyatakan, tugas utama satgas lebih diprioritaskan menjaga pintu air bendungan. Sebab, sampah bisa menyebabkan pintu bendungan sulit dibuka, sehingga air meluap. “Jumlah satgas memang masih kurang. Kebutuhannya sekitar 30 personel,” bebernya. (zam/mar)