RADARJOGJA.CO.ID Pemkab Kulonprogo mulai menyiapkan lahan relokasi bagi warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Aiport (NYIA) di Temon, Kulonprogo. Pengurukan tanah akan dimulai pekan kedua Februari 2017.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Bidang Ciptakarya, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulonprogo Zahram Asurawan kemarin.

“Minggu kedua Februari kemungkinan sudah mulai mobilisasi material (urukan). Untuk tahap awal pengurukan jalan masuk angkutan material bangunan rumah warga ke lokasi relokasi,” kata Zahram.

Kontraktor pemenang lelang pengerjaan pengurukan yakni PT Irina Perkasa dari Kalimantan Selatan. Penandatanganan kontrak dan surat perintah kerja (SPK) dilakukan hari ini, 1 Februari 2017.

Lahan relokasi ada di lima lokasi dan akan berdiri di atas tanah kas desa, yakni Desa Glagah, Palihan, Kebonrejo, Jangkaran, dan Janten. Berdasarkan hasil penghitungan, total urukan yang dibutuhkan sebanyak 242.000 meter kubik.

Saat ini material uruk yang tersedia baru 139.000 m3, berasal dari Pedukuhan Kaligalang, Desa Kaliagung, Kecamatan Sentolo. Pengerjaan pengurukan tahap awal pengurukan akses jalan masuk sekitar 41.700 m3.

“Setelah itu pengurukan ke halaman calon rumah warga. Anggaran untuk pengurukan ini sebesar Rp 19 miliar, namun di kontrak Rp 16,557 miliar,” kata Zahram.

Target pengurukan akses jalan masuk selesai 23 hari dengan 50 unit dumptruck. Namun jika bisa menyediakan 100 dumptruck maka uruk bisa selesai 12 hari.

Selama proses pengurukan, koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Perhubungan melakukan rekayasa lalu-lintas. Sebab hilir mudik truk material berpotensi mengganggu lalu-lintas.

“Kekurangan pengurukan sekitar 100 meter kubik akan diusulkan pelaksanaannya dalam anggaran di APBD Perubahan. Dana yang diperlukan sekitar Rp 12 miliar,” kata Zahram.

Penyiapan lahan untuk relokasi baru bisa terlaksana Februari karena harus melalui beberapa proses, tidak bisa serta merta dilakukan. Proses harus diawali kepastian lokasi, pengukuran secara teknis, dan penyiapan dokumen. Setelah semua dokumen selesai baru bisa dilaksanakan pengumuman lelang, dan itu sudah dilalukan 27 Desember 2016.

Kepala Desa Glagah Agus Parmono menyatakan, warga terdampak bandara berharap segera ada kepastian lahan untuk relokasi. Mereka minta pengurukan untuk menyiapkan lahan relokasi segera dilakukan. (tom/iwa/mar)