RADARJOGJA.CO.ID – Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Nasib apes itulah yang dialami Eliyanto, 23. Bagaimana tidak, Warga Pedukuhan Salam, Temuwuh, Dlingo ini tidak hanya kehilangan putri pertamanya. Tapi juga istrinya, Puji Lestari, 20.

Cerita pedih yang dialami Eli, sapaannya bermula Jumat (27/1) lalu. Dengan mengendarai sepeda motor, sekitar pukul 23.00 buruh serabutan ini membonceng istrinya yang hamil tua menuju Puskemas Dlingo I. Dia bermaksud memeriksakan sekaligus mengecek kondisi kandungan istrinya. Apakah sudah memasuki tahap awal kelahiran atau belum. Bukannya diminta menjalani rawat inap, Eli justru diminta membawa pulang istrinya.

“Padahal kata petugas istri saya baru akan melahirkan sekitar Subuh (pukul 04.30),” tutur Eli, Senin (30/1).

Eli akhirnya membawa pulang istrinya. Namun, sekitar pukul 02.00, Sabtu (29/1), Eli kembali ke puskesmas bersama istrinya yang akan melahirkan. Saat itulah dia mengetahui jika petugas puskesmas tak sanggup menangani proses persalinan Puji Lestari. Petugas puskesmas kemudian menyarankan istri Eli agar menjalani perawatan di RS Nur Hidayah.

Lagi-lagi ketidakpedulian petugas puskesmas membuat Eli kelabakan sendiri. Lantaran kondisi istrinya tidak memungkinkan diantar ke RS menggunakan sepeda motor, Eli terpaksa pulang meminjam mobil pikap milik tetangganya. Sebab, jarak Puskesmas dengan RS yang terletak di kecamatan Jetis ini cukup jauh. “Puskesmas tidak menawari (mobil) ambulans,” keluhnya.

Eli sampai di puskesmas lagi sekitar pukul 02.30 dengan membawa mobil pikap. Dalam perjalanan, istrinya berada di bak belakang bersama dirinya. Perjalanan dari puskesmas ini sempat tersendat lantaran hujan deras. Sehingga Eli sempat meminta sopir untuk berteduh di tengah perjalanan. Dan, baru tiba di rumah sakit sekitar pukul 04.30.

Sayangnya, perjuangan ekstra Eli justru berujung pilu. Dokter menyatakan detak jantung putri pertamanya yang masih dalam kandungan istrinya berhenti. Alias, meninggal dunia. “Istri sudah kesakitan. Ditambah anak tidak bisa diselamatkan,” sesalnya lirih.

Setelah melakukan serangkaian konsultasi Eli lantas meminta dokter agar bayinya dikeluarkan dengan proses persalinan normal. Sekitar pukul 09.30 bayi yang sudah tak bernyawa ini keluar dari rahim ibunya.

Belum hilang duka kehilangan putri pertama, Eli kian shock setelah melihat istrinya juga meninggal dunia sekitar pukul 11.15. Perempuan asal Semoyo, Patuk, Gunungkidul ini meregang nyawa setelah kehilangan banyak darah.

“Sorenya langsung dimakamkan,” ucapnya berusaha tegar.

Ngadiyem, nenek Eliyanto bercerita, Puji tampak sehat selama mengandung. Tidak pernah mengeluhkan berbagai penyakit aneh. “Tinggalnya pindah-pindah. Terkadang di Temuwuh. Kadang juga di Gunungkidul di rumah orang tuanya,” kata Ngadiyem.

Mendapat informasi ini, Plt Kepala Puskesmas Dlingo I Sigit Hendro Sulistyo berkilah petugas jaga telah melakukan observasi. Hasilnya, saat itu belum ada tanda-tanda melahirkan. Walaupun usia kandungan sudah mendekati.

“Karena keterbatasan alat, pasien akhirnya dirujuk (ke rumah sakit),” kelitnya.

Terkait ambulans, Sigit meyakini petugas memiliki pertimbangan khusus. Salah satunya, kondisi pasien stabil. Walaupun pemanfaatan mobil ambulans sebenarnya tidak hanya terbatas untuk pasien gawat darurat.”Fasilitas ambulans kami buka seluas-luasnya,” dalih Sigit. (zam/mar)