RADARJOGJA.CO.ID – Ketua Pusat Studi Pancasila Heru Santoso Universitas Gajah Mada (UGM) mengatakan, ada banyak isu yang mudah digulirkan untuk memecah belah DIJ. Di antaranya, masalah gender, keraton, hingga pertanahan. Walaupun DIJ memiliki sejarah lebih panjang dibanding Indonesia.

“Diserang dengan isu kesetaraan gender atau pertanahan pasti goyah,” kata Heru di sela pelantikan PAC Benteng Kedaulatan (BK) Imogiri di Padukuhan Singosaren, Wukirsari, Imogiri, Minggu (29/1).

Menurut Heru, kembali kepada Pancasila secara utuh menjadi satu-satunya penangkal berbagai upaya pecah belah. Dia mencontohkan peristiwa penjajahan pada 1908, dimana Belanda menerapkan devide et impera. Kendati begitu, upaya penjajahan ini akhirnya dapat dikalahkan meski butuh perjuangan panjang. “Tentu saja dengan diserukannya persatuan,” tegasnya.

Sebagai peneliti, Heru mencium banyak negara besar yang ingin kembali menjajah Indonesia. Namun, penjajahan tersebut dengan model baru seperti melalui kerja sama mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam.

Melihat fenomena seperti inilah Heru melihat keberadaan organisasi kemasyarakatan yang berbasis Pancasila sangat vital termasuk BK. “Untuk melawan penjajahan model baru ini,” ucapnya.

Wakil Ketua DPP BK Sigit Priyono Harsito berjanji bakal menjaga garis perjuangan BK. Untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat. Agar BK tidak terkooptasi dengan berbagai kepentingan material.

“Kami bertekad tidak akan berubah menjadi partai politik,” tegas pria yang akrab disapa Sigit Grenjeng. (zam/mar)