RADARJOGJA.CO.ID – KABAR tertangkapnya dua tersangka kasus penganiayaan peserta diksar The Great Camping (TGC) Mapala UII (Unisi) mendapat sambutan positif dari salah satu keluarga korban. Setelah tertangkap, keluarga meminta adanya keterbukaan dalam kasus tersebut.

“Kami sudah mendengar. Semoga kepolisian segera membuka kasus ini,” ujar paman dari Syaits Asyam, Lilik Margono, ditemui kemarin (30/1).

Setelah dua pelaku tersebut tertangkap, pihaknya berharap ada keterbukaan atas kejadian meninggalnya keponakaannya. Sebab, selama ini keluarga tidak mengetahui secara pasti penyebab kematian Asyam.

Keluarga meyakini dalam pelaksanaan kegiatan diksar itu ada perilaku kekerasan yang dilakukan oleh oknum panitia. Apalagi, korban meninggal tidak hanya menimpa keluarganya saja, melainkan menimpa peserta lain.

Hingga saat ini, katanya, kronologi luka tubuh yang menyebabkan Asyam dirawat intensif di RS Bethesda masih menjadi misteri bagi pihak keluarga. Meski sebelum meninggal Asyam sempat berujar adanya pemukulan, namun pihak panitia dan kampus belum ada yang menjelaskan itu kepada keluarga.

BACA: Yudi dan Angga Terancam Hukuman 5 Tahun lebih

“Sampai dengan hari ini belum ada panitia yang datang untuk menjelaskan kronologi yang sebenarnya terjadi,” jelasnya.

Keluarga, sambungnya, hanya mengetahui bahwa Asyam meninggal akibat gagal pernapasan. Namun, dengan adanya luka di sekujur tubuh dan hasil otopsi yang dilakukan, keluarga menduga ada penyebab lain Asyam meninggal dunia.

“Kami harap dapat segera terbuka karena sampai saat ini kami belum diberi kejelasan,” jelasnya.

Keluarga, jelasnya, mengapresiasi kerja kepolisian yang bisa segera menetapkan tersangka kasus itu.

Sementara itu di tempat terpisah, pengacara pihak Mapala UII Willy Pangaribuan enggan berkomentar mengenai penangkapan dua mahasiswa UII. “Kami hanya fokus untuk mempersiapkan ke 16 saksi yang akan dipanggil hari ini,” kata Willy ditemui di base camp Mapala UII Jalan Cik Di Tiro kemarin.

Dia menjelaskan, 16 Mapala UII yang akan dipanggil ke Polres Karanganyar merupakan panitia struktural dan penanggung jawab kegiatan selama kegiatan diksar. Pihaknya, berjanji akan kooperatif selama menjalani proses penyidikan dari pihak kepolisian. “Kami telah melengkapi data-data yang harus di-support,” katanya.

Diungkapkan, sebanyak 16 orang yang dipanggil akan berangkat dari base camp Mapala UII. “Rencananya Subuh kami berangkat, mengingat jarak yang cukup jauh,” jelasnya.

Sementara itu, di tempat yang sama, sekitar sepuluh orang yang menamakan diri Masyarakat Anti Kekerasan Yogyakarta (Makaryo) menyambangi base camp Mapala UII. Di sana, mereka menyampaikan “surat cinta” kepada mapala.

Perwakilan Makaryo Tri Wahyu KH menyampaikan, agar Mapala Unisi ke depan meninggalkan cara-cara kekerasan dalam pelaksanaan diksar. Sebab sebagai seorang Mapala, juga harus menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM).

“Jangan jadikan adik kelas sasaran kekerasan. Mereka adalah generasi penerus dari para senior,” katanya. (bhn/ila/ong)