RADARJOGJA.CO.ID – KALA mayoritas penikmat musik masih hidup di tengah budaya pop akut, tanpa disadari industri musik kini memasuki era eksplorasi. Banyak musisi yang kini menempatkan musik bukan saja sebagai wahana hiburan, tapi juga untuk menyampaikan suatu pesan dengan menemukan gaya bermusik sendiri. Indonesia memiliki Senyawa, duo eksperimental asal Jogjakarta.

Musisi Senyawa, Rully Shabara dan Wukir Suryadi, mampu menghadirkan derau-derau musik secara intens yang mencuri hati. Kolaborasi itu terus berlanjut dan membawa mereka malang melintang di luar negeri. Bahkan, Senyawa kerap berbagi panggung dengan musisi ternama. Mulai Damo Suzuki, Keiji Haino, Oren Ambarchi, Sun Ra Arkestra, Melt Banana, Death Grips, Trevor Dunn, Swans, hingga Justin Vernon (Bon Iver).

Keduanya mengemas sebuah karya lewat instrumen swadaya dari alat musik yang dirakit dan dirancang sendiri, khususnya oleh Wukir. Wukir, sang kreator instrumen musik, mampu menciptakan alat musik instrumen yang unik. Misalnya, bambu yang diberi nama Bambuwukir. Ada garu yang berasal dari alat bajak sawah tradisional dan solet, alat masak tradisional Jawa berbahan kayu yang menjadi instrumen musik mirip gitar.

Instrumen swadaya itu diimbangi gaya vokal Rully yang mengeksplorasi banyak bahasa Nusantara serta suara alam. Jika orang awam mendengar, Rully justru lebih sering terdengar berteriak dan berdendang ketimbang mengucapkan kata-kata. “Tidak mesti sebuah syair lagu disampaikan dari isi kalimat. Posisiku di sini bukan semata-mata sebagai vokalis, tapi sebagai penyeimbang bunyi yang dihasilkan Wukir. Wukir juga tidak mengiringi aku nyanyi,” ujar Rully.

Keduanya meyakini pesan dari sebuah lagu nggak hanya mampu disampaikan kata-kata. Sebab, kadang bunyi justru lebih bisa menyampaikan emosi ke pendengarnya. “Kalau sound-nya benar, kami baru bisa menyampaikan musiknya secara maksimal. Sebab, bunyi dan frekuensilah yang kami eksplorasikan,” tutur Wukir.

Senyawa menganalogikan berada di sebuah hutan belantara ketika setiap menciptakan karya. Karya yang diciptakan haruslah belum pernah terpikirkan, baik oleh Rully maupun Wukir. Sama dengan jika berada di sebuah hutan dan mencari cara untuk bertahan hidup. Senyawa pun sering menciptakan karya dengan timing tanpa disengaja.

“Biasanya pas lagi soundcheck, terus nemu instrumen baru langsung dibawain pas manggung,” kata Rully. Trik itu dilakukan keduanya di tengah padatnya kegiatan dengan karir masing-masing. “Jadi, nggak harus nunggu nemuin sound atau instrumennya dulu baru bikin lirik atau lagunya. Kami juga udah tahu karakter masing-masing. Jadi, udah gampang kalau mau bikin karya secara langsung,” ucap Wukir.

Uniknya, Wukir maupun Rully justru lebih sering mendapatkan inspirasi saat berkolaborasi dengan musisi lain. “Kami nggak pernah menspesifikkan berasal dari jenis musik apa karya Senyawa. Sebab, kami juga menggemari dan mendengarkan banyak jenis musik, tapi tujuannya bukan untuk dijadikan referensi karya kami,” jelas Rully.

Jika banyak yang mengira Senyawa amat kental dengan unsur musik etnik Indonesia, ternyata beberapa unsur karya mereka juga banyak terinspirasi dari luar. “Biasanya, mereka (penonton, Red) berpikir seperti itu karena melihat kami berasal dari Indonesia dan beberapa lirik juga pakai bahasa Indonesia. Jadi, kesannya kayak membawa unsur musik Indonesia. Padahal, ini musiknya Senyawa,” tegas Rully. (dhs/rno/c14/grc/ong)