RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Harsoyo meminta mahasiswanya tidak berspekulasi atas keputusan mundur dari jabatan Rektor UII. Setelah menyatakan mundur di hadapan Menristekdikti Muhammad Nasir, beredar info liar tentang alasannya meng-undurkan diri. Salah satunya adanya desakan dari pihak lain agar Harsoyo mundur sebagai rektor

“Jadi saya tegaskan keputusan ini atas keinginan pribadi. Tidak ada desakan dari pihak manapun. Merupakan bentuk pertanggung-jawaban moral sebagai pucuk pimpinan tertinggi,” jelas Harsoyo di depan ribuan mahasiswa di lapangan sepak bola kampus UII Terpadu, kemarin (29/1).

Pada pertemuan dengan civitas akademik UII kemarin me rupakan kali pertama Harsoyo membe-rikan penjelasan terkait kepu-tusannya. Harsoyo mengungkapkan, keputusan ini diambil setelah melalui perenungan. Terutama sejak kasus diksar bergulir sebagai isu nasional. Apalagi jumlah korban terus bertambah men-jadi tiga orang.

“Waktu almarhum Muhammad Fadli meninggal saya mengira masih wajar karena efek cuaca. Hingga akhirnya menyusul korban lain Syaits Asyam dan Ilham Nurfadmi Listia Adi. Perasaan saya sudah tidak karuan waktu itu,” ujarnya.

Harsoyo menilai, kematian ketiga mahasiswanya sebagai tanggung jawab besar. Terutama sebagai pimpinan, dirinya merasa gagal mengawasi kegiatan mahasiswanya. Dia mengungkapkan bagian terberat adalah menemui orang tua korban. Mulai dari ibu Asyam, Sri Handayani, dan ayah Ilham, Syafii, untuk menyampaikan langsung permintaan maaf dan rasa bela sungkawa.

“Ungkapan pertama orang tua (almarhum Ilham) adalah tidak terima dengan kejadian ini. Sudah menyekolahkan di UII untuk jadi anak soleh kenapa dibunuh,” kata Harsoyo.

Pernyataan mundur jabatan pertama kali disampaikan ke Ketua Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII Luthfi Hasan. Ini se-belum dirinya bertemu dengan Menristekdikti. Dia meng-ungkapkan pimpinan lain dan karyawan tidak ada yang tahu keputusannya ini.

Meski begitu, dia tetap ber-komitmen mengawal kasus. Mendorong agar pelaku ke kerasan segera terungkap. Bahkan Selasa (31/1) besok Harsoyo akan mengantar 16 panitia diksar ke Polres Karanganyar.

“Saya bertanggung jawab, jika ada satu anak yang mangkir saya bersedia menjadi jaminan. Maka dari itu saya akan me-ngantar sendiri sebagai wujud pertanggungjawaban,” tegasnya.Hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Rektor III Abdul Jamil. Dia merasa bertanggung jawab karena bagian kemahasiswaan adalah tupoksinya. Termasuk perizinan kegiatan TGC Mapala UII.

Meski begitu, Jamil mengaku tidak akan meninggalkan ke-wajibannya sebagai Ketua Tim Pencari Fakta (TPF). Upaya mencari penyebab kematian tiga korban masih berlangsung. Hingga akhirnya menemukan fakta untuk mendukung penyidikan. “Secara struktural tugas saya me ngawasi kegiatan kemahasis-waan termasuk perizinan. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab sebagai ketua TPF, investi-gasi tetap berjalan,” tegasnya.

Sementara itu, kalangan ma-hasiswanya, Harsoyo merupakan sosok rektor yang membumi. Menurut salah satu mahasiswa UII tingkat akhir yang enggan disebutkan namanya ini, Harsoyo sering datang ke kantor tanpa mobil. Alasannya, karena ingin memberikan libur kepada su-pirnya. Bahkan, mahasiswa yang bimbingan skripsi kepadanya diajak untuk salat berjamaah terlebih dulu. “Sosok rektor yang down to earth,” jelas mahasiswi yang sedang menyelesaikan skripsi ini.(dwi/ila/ong)