Pada bagian lain, misteri kematian tiga mahasiswa UII perlahan mulai terungkap. Tiga korban mengalami penganiayaan oleh panitia dengan cara tidak manusiawi. Tiga korban mengalami pukulan, tendangan, dan sabetan menggunakan ranting. Mereka adalah Ilham Nurfadmi Listia Adi, Muhammad Fadli, dan Syaits Asyam.

Tim penyidik gabungan yang dipimpin Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjutak kembali menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP) kemarin. Penyidik memperluas zona olah TKP di tiga lokasi lain. Sebelumnya pencarian barang bukti hanya difokuskan di tempat diklat di Watu Lumbu.

Petugas juga menyisir tebing setinggi 30 meter untuk mencari barang bukti tambahan. “Kami amankan 15 barang yang diduga terkait tindak kekerasan yang dialami tiga korban. Ada beberapa batang kayu dan ranting, serta alat pengait yang diduga dari tas atau alat pemanjat,” jelas Ade Safri.

Tak hanya itu, tim juga menemukan potongan rambut yang diduga milik salah satu peserta. “Iya kami temukan benda yang diduga rambut. Nanti kami sesuaian dengan hasil visum pihak rumah sakit,” lanjutnya.

Petugas juga meminta keterangan saksi warga setempat yang melihat salah satu korban, Muhammad Fadli yang ditandu dari lokasi diklat menuju basecamp panitia di rumah Joko Suratin, warga setempat. Total 30 barang bukti terkumpul dari lokasi maupun peserta sejak penyelidikan hari pertama Minggu lalu.

Ditambahkan, dari keterangan saksi terungkap, korban diminta membawa air dalam jeriken yang dimasukkan di atas punggung. Namun, polisi belum menemukan jeriken tersebut. “Kami masih mencari dari peserta lain,” jelas perwira polisi dengan dua melati di pundak.

Polisi juga mendapat keterangan bahwa Muhammad Fadli dan Syaits Asyam adalah peserta yang ingin mengundurkan diri. Namun, mereka dipisahkan oleh panitia dan diduga dianiaya pelaku hingga meninggal. “Mereka berencana mundur pada hari ke tiga. Termasuk satu saksi mahkota yang saat ini masih dirawat di rumah sakit,” bebernya.

Menurut Ade, kekerasan tak hanya dialami ketiganya saat dipisahkan dari kelompok besar. Tapi juga terjadi saat bersama peserta lainnya. Kekerasan itu sebagai bentuk hukuman karena korban dianggap melanggar aturan diklat. Korban ini oleh pelaku dianggap sebagai peserta yang pemalas dan bandel. Sebanyak 37 peserta dibagi menjadi lima regu. Tiga korban meninggal masuk satu regu. . “Saksi-saksi kelompok besar juga melihat kekerasan yang terjadi,” katanya. Ade menduga, kekerasan juga dialami peserta lainnya

Untuk menuntaskan perkara ini, penyidik berencana memanggil seluruh panitia diklat untuk menjalani pemeriksaan pada Senin (30/1). Ade memastikan bakal melindungi saksi. Karena itu, dia berharap pihak rumah sakit dan kampus kooperatif.

Penetapan tersangka akan dilakukan setelah gelar perkara ke dua pekan depan. Para pelaku akan dijerat pasal 170 ayat (2) ke 3E KUHP tentang Tindak Pidana Kekerasan secara Bersama yang Mengakibatkan Kematian, dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara. Subsider pasal 351 ayat (3) KUHP tentang Penganiayaan Yang Mengakibatkan Kematian dengan ancaman tujuh tahun penjara.

Informasi yang dihimpun, dua nama yang dibidik untuk dijadikan tersangka berinisial Y dan A. Namun kapolres enggan menyebut nama-nama yang akan dijadikan tersangka. Dia tak menampik jika nantinya akan ada peserta lain selain nama-nama yang sudah dibidik. “Kami masih melakukan penyelidikan secara mendalam. Tidak menutup kemungkinan tersangka bisa bertambah,” tandasnya (tom/riz/dwi/adi/yog/ong)