Wujudkan Akulturasi, Nguri-uri Budaya Tionghoa di Indonesia

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) tak bisa dilepaskan dari asal mula lahirnya Jogja Chinese Art & Culture Centre (JCACC). Apa saja persiapan pengurus JCACC yang sejak 2008 menjadi pengurus utama pelaksanaan PBTY?

VITA WAHYU HARYANTI, Jogja.

Paguyuban warga keturunan Tionghoa yang peduli warisan budaya nenek moyang ini terbentuk ketika Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X menahbiskan Kota Jogja sebagai The city of tolerance.

JCACC dibentuk untuk lebih mengokohkan hubungan para tokoh pecinta kebudayaan Tionghoa. Seperti Fu Qing, Hakka, PERMASI, dan PITI. “Ada 14 forum semuanya,” ungkap Ketua I JCACC Jimmy Sutanto kemarin (27/1).

Konsekuensi atas terbentuknya paguyuban, semua anggota wajib memikul tanggung jawab bersama. Untuk mengurus acara-acara kebudayaan. Bagi Jimmy, langkah yang ditempuh menjadi bagian dari nguri-uri budaya Tionghoa yang ada di Indonesia. Seperti, Imlek, Cap Go Meh, Peh Cun, lomba perahu naga, dan Tiong Ciu.

Kegiatan dan perayaan masing-masing acara digelar di tempat berbeda. Imlek, misalnya. Selalu dipusatkan di Kampung Ketandan, Kota Jogja. Sedangkan peribadatan di Kelenteng Poncowinatan. Sedangkan lomba perahu naga di Pantai Parangtritis.

Kebersamaan diwujudkan dengan membagi giliran sebagai panitia kegiatan. Adapun, perayaan Imlek di Ketandan pada 5 Februari mendatang giliran Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) yang menjadi motor penggeraknya.

Menariknya, JCACC tak menanggung semua biaya yang dibutuhkan. Dana dihimpun dari sumbangan para pengusaha toko-toko Tionghoa. Meskipun mereka tak tergabung dalam paguyuban. Ada juga suntikan dana dari pemerintah. Khususnya, dinas pariwisata.

“Setiap mau ada acara kami sibuk bersama. Saling mendukung satu dan lainnya,” ungkap Jimmy.

Selain kegiatan seni budaya, perayaan Imlek kali ini akan dimeriahkan karnaval, lomba karaoke, lomba bahasa Mandarin, pemilihan Koko-Cici, dan akulturasi budaya selain Tionghoa. Acara akan digeber selama 5 hari berturut-turut.

Setiap kali perhelatan Imlek selalu mengundang antusiasme warga Jogja. Bahkan, Kampung Ketandan telah menjadi salah satu magnet bagi wisatawan luar daerah setiap kali Imlek. “Pengunjung bisa ribuan orang per hari,” kata kakek berkacamata itu.

Nah, siapapun yang berkunjung ke Ketandan nantinya tak hanya disuguhi tontonan acara seni budaya. Tersedia pula aneka makanan, pernak-pernik Imlek, dan bazar.(yog/ong)