Aktif di Kampus, Dosen Teknik Industri Merasa Sangat Kehilangan

Lima hari berlalu pasca meninggalnya Syaits Asyam, masih banyak teman, sahabat, dan kerabat yang datang ke rumahnya yang berada di Jetis RT3/RW 13, Caturharjo, Sleman. Ibu almarhum, Sri Handayani, dengan ramah menerima tamu yang datang.

DWI AGUS, Sleman

MESKI terlihat sayu, perempuan berhijab ini tetap tersenyum menerima para tamu yang masih berdatangan untuk memberikan support moral kepada keluarganya. Seperti kemarin (26/1), usai didatangi Menristekdikti Muhammad Nasir, teman-teman anak semata wayangnya juga berdatangan.

Begitu pula dengan dosen-dosen di Prodi Teknik Industri UII. Mereka bertemu Handayani untuk menyampaikan rasa bela sungkawa. Para dosen juga mendatangi makam Asyam yang letaknya tidak jauh di belakang rumahnya.

“Mendoakan agar almarhum Syaits Asyam mendapatkan derajat tinggi selaku mujahid pelajar Prodi Teknik Industri. Dapat menajdi inspirasi kami semua sebagai insan pendidikan,” kata Dosen Prodi Teknik Industri Nasrullah Setiawan kemarin.

Nasrullah memandang sosok Asyam sebagai mahasiswa yang memiliki peringkat di atas rata-rata. Itu berkaca pada penghargaan internasional yang diperoleh Asyam saat duduk di SMA Kesatuan Bangsa pada 2014. Juga keaktifannya di kegiatan kampus.

Asyam juga dikenal sebagai mahasiswa yang cinta lingkungan. Tak heran, hal itu pula yang melatarbelakangi Asyam bergabung dengan Mapala UII.

“Cita-citanya mulia tentang lingkungan. Kemampuan dan keahliannya dimanfaatkan untuk alam. Saya pun yakin ini pula yang mendorong dia bergabung dengan Maapala UII,” tandasnya.

Tentang peristiwa The Great Camping (TGC), Nasrullah tidak bisa berkomentar banyak. Nasrullah berharap proses investigasi cepat rampung, sehingga bisa diketahui penyebab terjadinya peristiwa itu.

Dia memandang, baik peserta maupun panitia tetaplah mahasiswanya. Hanya, dia berharap peristiwa ini tidak terulang kembali. Sehingga perlu pengawasan agar semangat Mapala UII tidak melenceng.

“Asyam anak kami, mapala juga anak kami. Semua ini jadi pembelajaran. Semua dosen merasa terkejut dengan kejadian ini,” katanya.

Sementara itu Handayani mengaku bahagia anaknya memiliki banyak teman yang peduli. Diakuinya, Asyam yang lahir 7 Juli 1997 ini sangat dekat dengan teman dan keluarga. “Sebagai anak tunggal, Asyam terlihat sangat mandiri. Dia juga dekat dengan keluarga,” ungkapnya. (ila/ong)