RADARJOGJA.CO.ID – NAMA Yudi santer terdengar sebagai terduga pelaku penganiayaan Syaits Asyam. Itu sesuai dengan isi memo yang disampaikan almarhum sebelum menghembuskan napas terakhirnya di RS Bethesda pada Sabtu (21/1) lalu.

Menurut keterangan ibu Asyam, Sri Handayani saat di RS Bethesda, dokter yang menangani Asyam meminta dia mencatat segala ucapan anaknya. Sebab, keadaan anaknya dipastikan dalam masa kritis. Tujuannya menghimpun informasi penyebab kekerasan fisik yang dialami oleh anaknya.

Dalam catatan yang ditulis di kertas Memo Bethesda itu Asyam menyampaikan tiga poin. Dalam memo, Asyam sendiri yang menulis poin pertama. Selanjutnya untuk poin kedua dan ketiga ditulis langsung oleh Sri Handayani.

Asyam menyebut nama Yudi yang melakukan kekerasan. Pertama memukul punggung menggunakan rotan sebanyak sepuluh kali. Lalu mengangkat beban air terlalu berat dan ada aksi kekerasan lanjutan oleh nama yang sama.

Sumber terpercaya Radar Jogja menyampaikan bahwa Yudi merupakan mahasiswa Teknik Industri asal Kupang. Yudi sudah berstatus lulus pada akhir 2016 lalu. “Kemungkinan ada dua pelaku lain selain Y (Yudi) yang melakukan penganiayaan. Tapi, hingga sekarang masih diselidiki,” ujar sumber tersebut.

Sementara itu, salah satu peserta diksar mapala berinisial Af mengungkapkan dirinya masuk dalam satu kelompok bersama dua korban meninggal, yakni Syaits Asyam dan Ilham Nurfadmi. “Satu kelompok isinya delapan orang,” ungkapnya.

Hanya, dia enggan membeberkan kronologis kejadian di lokasi diksar sepekan lalu. “Sebenarnya tahu, tapi saya ndak enak mau cerita. Mending tanya ke Humas UII saja, saya mau operasi lutut dulu mas,” ujarnya saat dihubungi kemarin (26/1).

Af merupakan salah satu peserta diksar yang masih menjalani perawatan intensif di RS JIH. Dia mengaku kondisinya lebih baik. “Ya sudah mendingan, sudah lebih baik meski masih di rumah sakit,” ungkapnya.

Dia mengaku luka di bagian lutut dan lecet-lecet. Af mengungkapkan, luka yang didapat karena disuruh merayap. “Lecet karena kena duri alang-alang dan rumput gajah. Tempurung lutut geser. Tapi, luka dalam setelah rontgen dinyatakan aman,” tuturnya.

Mengenai kabar beberapa peserta yang terkena hipotermia, dia menyebut memang ada beberapa peserta yang kadang tidak berganti pakaian setelah kegiatan di gunung tersebut. Padahal pakaian tersebut basah. “Kalau hujan disuruh ganti baju, terus bikin kemah. Ganti celana biar tidak masuk angin dan kutu air. Tapi ada juga yang walaupun pakaian basah tidak ganti dan langsung tidur,” katanya.

Keterangan Af yang tahu kejadiannya tapi enggan bicara ini sangat disayangkan. Terlebih Menristekdikti Muhammad Nasir sudah menjamin keamanan saksi. Nasir bahkan meminta peserta diksar tidak takut membuka tabir kasus diksar mapala di Gunung Lawu.

“Beberapa peserta memang ada yang enggan bercerita. Bahkan terkesan menutupi kejadian selama penyelenggaran diksar mapala,” ungkapnya.

Hal ini, menurutnya, akan menghambat proses investigasi. Tentu ini berimbas pada penyidikan kasus kekerasan. Dia tak ingin kasus kekerasan dalam dunia pendidikan menguap begitu saja.

“Saya meminta (kepada) polisi untuk menjamin perlindungan (peserta) yang menjadi saksi, harus dibongkar jika ada mafia seperti ini,” tegasnya. (riz/dwi/ila/ong)