RADARJOGJA.CO.ID – SELURUH peserta TGC mendapatkan pemeriksaan intensif di RS JIH sejak Senin malam (23/1). Para peserta dicek ulang kesehatannya. Lima di antaranya menjalani perawatan secara intensif. Hingga tadi malam di RS JIH peserta TGC yang berjumlah sekitar 34 orang masih diperiksa. Dari pantauan RadarJogja.co.id, para mahasiswa yang didampingi oleh sejumlah dosen itu diberikan suntikan antibiotik.

Rektor UII Harsoyo menuturkan lima mahasiswa yang dirawat intensif mengalami trauma fisik di tubuhnya. Sehingga perlu perawatan khusus untuk menyembuhkan luka. “Kami lakukan pemeriksaan ulang, kali ini lebih intensif. Ada satu anak yang kami jemput dari Purworejo untuk pemeriksaan,” ujarnya di Gedung Rektorat UII, kemarin (24/1).

UII memprioritaskan pendampingan kepada peserta diksar dan orang tua peserta. Terutama keluarga almarhum Fadli, Syaits Asyam, dan Ilham Nurfadmy Listia Adi. Saat ini UII telah melakukan pendampingan kepada orang tua Ilham terkait laporan ke pihak kepolisian.

Dalam kesempatan ini, dia kembali menegaskan komitmen UII. Upaya investigasi terus dilakukan untuk mengungkap tabir diksar Mapala UII. Langkah strategis awal dengan membekukan segala kegiatan Mapala UII dan kegiatan lain yang sifatnya outdoor.

“Sedang menyusun laporan juga ke Kopertis dan ORI. Dari hasil investigasi dan pemeriksaan kesehatan memang ditemukan ada kekerasan fisik. Sanksi ketegasan dari kampus pasti ada, ditambah proses hukum oleh kepolisian,” tegasnya.

Saat disinggung adanya pihak luar yang bergabung dalam diksar, Harsoyo menampik. Menurutnya, diksar hanya diikuti dan dilakukan oleh mahasiswa UII. Untuk saat ini tim investigasi fokus pada detail kekerasan yang terjadi.

“Keterlibatan orang luar tidak ada, semua anggota mapala sendiri. Kekerasan secara rinci masih pendalaman. Dari hasil investigasi, rotan itu tidak ada hanya ranting,” jelasnya.

Kejadian yang menimpa almarhum Ilham bisa dibilang luput. Dalam jumpa pers sebelumnya, Senin (23/1), Harsoyo menjelaskan ada pemeriksaan kesehatan kepada peserta diksar. Sayangnya Ilham yang telah mengikuti tahapan ini justru meninggal.

Anggota crisis center TGC Muzayin menuturkan belum bisa menyebutkan nama. Terlebih beberapa korban, seperti almarhum Asyam sempat menyebutkan satu nama. Tulisan memo Asyam akan menjadi bahan kajian investigasi pelaku kekerasan.

Sementara itu, upaya penelusuran panitia TGC dan pengurus Mapala UII tidak membuahkan hasil. Saat Radar Jogja mendatangi posko Mapala UII yang beralamat di Jalan Cik Di Tiro memang ada aktivitas. Namun, warga posko menolak untuk memberikan keterangan.

Sosok pria bernama Bayu sempat menemui Radar Jogja. Pria sepuh ini menyarankan menghubungi rektorat UII. Alasannya karena semua keterangan resmi dikeluarkan oleh pihak kampus. “Mohon maaf, lebih baik langsung ke rektorat saja. Agar komunikasi hanya satu arah,” ujar anggota Mapala angkatan 4 ini.

Berdasarkan pengamatan Radar Jogja, posko dipenuhi barang-barang mapala. Di teras posko teronggok puluhan tas dan sepatu pendaki. Semuanya barang-barang ini berlumuran lumpur warna cokelat. (dwi/riz/ila/ong)