RADARJOGJA.CO.ID – Munculnya kasus antraks di Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo tidak berpengaruh terhadap penjualan daging sapi dan kambing di pasar tradisional Kulonprogo. Salah satunya terpantau di Pasar Glaeng, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Selasa (24/1).

Salah seorang pedagang daging di Pasar Glaeng, Tarsiyah, 55, mengatakan, penjualan daging sapi maupun kambing tetap stabil tak terpengaruh isu antraks. Harganya Rp 120 ribu per kilogram. “Saya jualan daging biasa saja, yang beli juga biasa saja, pembeli tidak takut antraks,” kata Tarsiyah.

Daging sapi dan kambing yang dia jual hingga 40 kilogram per hari. Belum lagi jika ada pesanan, jumlahnya bisa lebih banyak.

“Seperti kemarin, saya jual sampai 1,5 kuintal karena ada pesanan. Dagingnya dari Semarang, harganya lebih murah dibanding daging yang diambil dari Purworejo,” kata Tarsiyah.

Namun daging yang dijual harus dipilih, jika menemukan daging yang kualitasnya tidak baik segera dikembalikan dan tidak dijual. Ciri daging yang baik, warnanya merah segar, kalau yang jelek kehitaman. “Kalau jelek ya dikembalikan, kasihan pembelinya jika tetap dijual,” kata Tarsiyah.

Staf Kesmavet Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo Joko Purwoko saat memantau Pasar Glaeng mengatakan sulit membedakan daging berbakteri antraks dengan bakteri lain. Pembedaan hanya bisa dilakukan dengan uji laboratorium.

Dia mengimbau pedagang daging menjual daging yang berasal dari rumah potong hewan (RPH). Ada surat keterangan kesehatan daging dari RPH. Jadi daging bisa dipastikan sehat dan layak konsumsi.

“Daging dari RPH benar-benar sehat karena hewan sebelum dipotong diperiksa dulu. Setelah dipotong juga diperiksa kesehatan dagingnya,” kata Joko Purwoko.

Bagi pembeli, agar memerhatikan fisik daging sehat warnanya merah cerah, baunya segar, tidak bau busuk, tidak rapuh, tidak berlendir, dan tidak berwarna hijau kebiruan. “Selama ini tidak ada laporan orang memakan daging dari pasar kemudian sakit,” kata Joko Purwoko.

Pemantauan rutin tersebut dilakukan bersama tim gabungan pemkab. Tim menemukan dua kilogram ikan asin berformalin, yakni kambing kacangan dan jambal masing-masing 1 kilogram. Ikan asin berformalin didapat dari seorang pedagang.

“Setelah diuji, ternyata positif mengandung formalin. Informasi dari pedagangnya, ikan itu didapat dari Pasar Purworejo,” kata Joko Purwoko. Ikan yang positif berformalin diminta untuk dikembalikan kepada distributor. (tom/iwa/mar)