RADARJOGJA.CO.ID – TIM investigasi UII langsung bergerak melakukan pemeriksaan. Tim investigasi memeriksa panitia penyelenggara diksar, ketua dan pengurus Mapala Unisi, serta para peserta.

Rektor UII R Ir Harsoyo, MSc memastikan tim investigasi akan bertindak objektif. Dia tidak ragu bertindak tegas jika ditemukan pelanggaran. Termasuk aksi kekerasan dalam proses diklat dasar mapala.

Harsoyo menuturkan, kegiatan The Great Camping (TGC) merupakan agenda resmi. Panitia penyelenggara telah melampirkan proposal dan perizinannya. Bahkan kegiatan ini telah berlangsung selama 37 kali.

“Untuk tahapan awal, pemeriksaan menyentuh panitia dan pengurus mapala terlebih dahulu,” jelas Harsoyo di Gedung Rektorat UII, kemarin (23/1).

Untuk saat ini dia mengaku belum bisa menjelaskan secara detail. Pastinya hasil dari investigasi ini akan disampaikan secara terbuka. Termasuk kejelasan organisasi Mapala UII jika memang ditemukan pelanggaran dalam kegiatannya.

“Kami akan kooperatif dengan pihak kepolisian jika dimintai keterangan. Termasuk hasil dari investigasi ini, jika diminta untuk menyampaikan,” ujarnya.

Wakil Rektor III Abdul Jamil menuturkan hasil sementara investigasi. Almarhum Syaits Asyam, 19, menurutnya sempat menderita diare. Ini berdasarkan laporan tim kesehatan dari Kedokteran UNS.

Kondisi ini berlanjut saat tim mapala pulang ke Jogjakarta. Asyam dilaporkan mengalami sakit perut seusai salat Subuh, Sabtu (21/1) lalu. Oleh tim mapala, akhirnya Asyam dirujuk ke RS Bethesda untuk mendapat perawatan lanjut.

“Kondisi waktu hari akhir dikabarkan tubuhnya lemas karena diare. Sempat disuruh istirahat tapi dia (Asyam) ingin menyelesaikan kegiatan,” jelasnya.

Abdul menjelaskan kenapa Asyam tidak dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Menurutnya, itu karena kehendak Asyam sendiri yang ingin pulang ke Jogjakarta. Panitia, menurut Abdul, juga menuturkan saat itu Asyam mengaku kuat.

“Dijawab iya saat ditanya masih kuat atau tidak. Preventif kami berlakukan kepada 35 peserta lainnya. Sebanyak 33 orang kami periksakan ke JIH, sementara dua orang di Klaten,” ujarnya.

Disinggung mengenai proses pengajuan izin, Mapala UII telah memenuhi syarat. Terbukti dengan adanya proposal perizinan kegiatan. Dalam proposal tersebut dicantumkan detail kegiatan.

Selain izin kampus, pihak Mapala UII juga melengkapi perizinan dari lokasi kegiatan. Tujuannya mengetahui kegiatan resmi TGC. Peserta TGC juga diminta melengkapi surat izin dari orang tua dan surat keterangan sehat dari dokter.

“Selama 36 penyelenggaraan TGC sebelumnya tidak ada laporan kekerasan. Baru kali ini terjadi kasus hingga pesertanya meninggal. Untuk sementara kegiatan TGC ditangguhkan hingga investigasi selesai,” ujarnya.

UII, menurut Abdul, mempersilakan keluarga korban untuk menempuh jalur hukum. Tim investigasi akan menjalani proses internal. Hasil dari penyelidikan internal juga tidak akan mngintervensi penyelidikan eksternal.

Jika ditemukan pelanggaran, dipastikan ada langkah tegas dari Rektorat UII. Mulai pemberhentian dengan tidak hormat kepada pelaku kekerasan. Hingga pembekuan dan penataan ulang Mapala UII jika pelanggaran sistematis.

Itu sama halnya dengan pelanggaran mahasiswa pada umumnya. Ditambah ada langkah serius dari pihak berwajib. “Sesuai komitmen kami, akan objektif dan kooperatif. Untuk saat ini, langkap preventif, semua kegiatan outdoor UII dihentikan sampai evaluasi kasus ini,” jelasnya.(dwi/dya/ila/ong)