Dipanggil Pak Menteri karena Saking Sibuknya

Almarhum Syaits Asyam dikenal sebagai sosok yang berprestasi. Salah satu prestasi menterengnya adalah Medali Emas dalam ajang IndonesiaScience Project Olympiad (ISPO) 2014. Asyam menjadi juara dalam bidang kimia semasa duduk di bangku SMA.

DWI AGUS, Sleman

SUASANA duka sangat terasa saat Radar Jogja mendatangi kediaman almarhum Syaits Asyam. Sang ibu, Sri Handayani, masih terlihat bersedih. Anak semata wayangnya kini telah tiada.

Di mata Handayani, Asyam merupakan sosok yang sederhana, taat beribadah, dan dekat kepada orang tua.

Cowok kelahiran 7 Juli 1997 ini sangat dielu-elukan oleh keluarganya. Handayani menceritakan kisah hidup anaknya. Sebagai anak tunggal, Asyam terlihat sangat mandiri.

“Selalu berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan dengan usahanya sendiri. Sangat ingin membahagiakan kedua orang tuanya,” kata Handayani ditemui di rumah duka Dusun Jetis, Caturharjo, Sleman, kemarin (23/1).

Dalam dunia pendidikan, Asyam sangat mencintai dunia penelitian. Bahkan diakui oleh Handayani, anaknya memiliki cita-cita menjadi Menteri Riset dan Teknologi. Tak heran jika dia juga berprestasi di bidang riset.

“Saat duduk di SMA Kesatuan Bangsa Jogjakarta, bersama sahabatnya Galih Ramadhan, Asyam meraih medali emas. Mereka melakukan penelitian kimia bertajuk Treatment of Oil Spill by Buffing Dust as an Efficient Adsorbent,” ujarnya.

Dalam ajang IndonesiaScience Project Olympiade (ISPO) 2014. Dia juga meneliti tentang limbah laut. Berkat ini, Asyam diundang ke Istana Negara oleh Presiden Jokowi. “Sangat bangga sekali atas prestasi yang dia raih,” kenangnya.

Diakui Handayani, Asyam punya semangat tinggi untuk menyelamatkan lingkungan. Keikutsertaannya dalam Mapala UII (Unisi) juga atas dasar kecintaan pada alam. Sebagai ibu, tentu Handayani sangat mendukung segala langkah anak semata wayangnya ini.

Di luar aktivitas akademis, Asyam juga giat di berbagai kegiatan sosial. Saking sibuknya, Handayani memiliki julukan khusus kepada Asyam.

“Dia sangat sibuk maka saya panggil pak menteri, karena seharian pasti penuh aktivitas,” ujarnya setengah terisak.

Perempuan berjilbab ini kembali mengenang kebersamaan dengan anaknya. Salah satu impian yang belum terwujud adalah menempuh pendidikan di luar negeri. Universitas Oxford London menjadi pelabuhan cita-cita pendidikan Asyam.

“Dia ingin ke Oxford. Di UII dia sudah mengikuti latihan kepemimpinan. Sekarang impian tersebut sudah menajdi kenangan. Tapi, semangatnya tetap saya simpan,” katanya.

Pengalaman tak terlupakan juga dialami oleh Pakde Asyam, Seno Aji. Pria berumur 48 tahun ini menerawang berbagai kenangan bersama keponakannya. Seno, sapaannya, sudah menganggap Asyam sebagai anaknya sendiri.

Seno menjadi saksi bagaimana Asyam dibesarkan. Satu hal yang dia tanamkan adalah menjadi orang yang berani. Termasuk berani mengakui kesalahan dan meminta maaf.

“Asyam itu orangnya sangat sederhana. Dibelikan mobil malah minta motor. Alhasil mobilnya jarang digunakan. Saya juga koleksi motor pitung, dia sempat nembung,” ujarnya.

Sebelum berangkat Diksar Mapala UII, Asyam sempat meminta izin kepadnya. Seno mengira kepergian Asyam hanya sekadar hobi. Seno juga sempat berpesan agar keponakannya berpikir ulang.

Oalah le awakmu koyo ngono kok arep munggah gunung. Tapi, saya tetap memberikan izin untuk pergi. Saya tidak menyangka Asyam berangkat diksar mapala,” kenangnya.

Pria berambut putih ini menyayangkan sikap panitia diksar mapala yang tidak kooperatif. Dalam surat izin tersebut tercantum nomor telepon orang tua. Anehnya saat kejadian, kabar justru didapatkan dari teman kuliah Asyam.

Seno sempat menangkap ada pertanda kepergian Asyam. Keponakannya seakan sadar kegiatan diksar penuh dengan kekerasan. Meski begitu Asyam tetap kekeuh berangkat mengikuti pelatihan di Gunung Lawu.

“Dia bilang, aku arep munggah gunung yo ming arep diantemi, mobile arep tak dol wong supire arep lungo adoh. Saya cuma berharap ada kejelasan penyebab meninggalnya Asyam,” harapnya. (ila/ong)