Harus Jalani Operasi Kedua di Usia 10 Tahun

RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN– Muhammad Tsaqif Dirga Krisnawan (5 bulan), korban kecelakaan di Jalan Magelang, Mlati, Sleman akhir tahun lalu telah dinyatakan sembuh oleh tim dokter RSUP dr Sardjito yang menanganinya. Kemarin (23/1) bayi yatim piatu itu diperbolehkan pulang.

Kamar nomor 7 di Bangsal Melati Tiga mendadak dipadati awak media. Di ruang itulah bungsu pasangan almarhum Trisutrisno dan Sri Kanthi Prihatin dirawat. Keduanya juga menjadi korban kecelakaan maut pada 22 Desember 2016.

Kantun Basuki, sang paman, dengan wajah semringah memberikan asupan air susu ibu (ASI) dari botol dot. Bayi mungil itu tampak aktif terhadap rangsangan luar. Sesekali,Tsaqif mengeluarkan suara tangis sepatah-sepatah.

Membaiknya kondisi bayi mungil itu bisa dikatakan sebuah mukjizat. Sebab, korban lakalantas itu pertama kali datang ke RSUP dr Sardjito dalam kondisi koma.

Humas RSUP dr Sardjito Trisno Heru Nugroho menyebut, Tsaqif datang dalam kondisi kritis dengan nafas yang cukup sulit. Kondisi itu disebabkan pendarahan otak akibat benturan benda keras di bagian kepala.

Kasus tersebut hampir sama dengan yang dialami Kepala Dinas Perhubungan DIJ, Sigit Haryanta,54. Sigit meninggal setelah sempat koma dan mengalami pendarahan otak akibat sebuah kecelakaan di Jalan Wates akhir tahun lalu.

“Kasus-kasus koma hingga gagal nafas memang sangat sulit diatasi. Anak ini memang luar biasa disamping adanya mukjizat,” katanya.

BACA:Melihat Kondisi Tsaqif Dirga, Korban Lakalantas yang Berjuang Hidup Akibat Pendarahan Otak

Saat dalam kondisi kritis, Tsaqif dirawat di ruang pediatric intensive care unit (PICU). Sejumlah tim dokter disiapkan guna mengupayakan kesembuhan Tsaqif.

Nasib baik memang berpihak kepada bayi yang lahir bertepatan dengan peringatan kemerdekaan RI ini. Tsaqif, bisa sadar setelah mengalami koma selama seminggu. “Itu ditandai dengan matanya yang bisa membuka,” jelas Heru.

Setelah tanda-tanda kehidupan dirasa semakin besar, tim dokter terus berusaha untuk mengatasi pendarahan yang terjadi di otak. Berbagai obat diberikan guna membantu tubuh sang bayi menyerap darah yang menumpuk di kepala.

Daya dan upaya tim dokter tidak sia-sia. Sehingga pendarahan yang dialami Tsaqif bisa berhenti. Bahkan, tubuh bayi imut itu mampu mengabsorsi darah yang ada di otak.

Setelah memastikan kondisinya membaik, Tsaqif dipindah ke ruang bangsal anak. Meski sudah tidak ada pendarahan, kala itu Tsaqif harus menjalani operasi besar. “Operasi itu untuk mengambil cairan yang menggumpal di otak dan memasang selang,” jelasnya.

Menurut dia, setelah operasi perkembangan kesehatan Tsaqif tumbuh dengan baik. Hal tersebut ditunjukan dengan perilaku pasien dari mulai bisa mengonsumsi asi tanpa bantuan alat hingga merespon rangsangan. “Anak ini sudah baik sudah baik. Hari ini (kemari.red) sudah boleh pulang,” katanya.

Dikatakan, dalam perkembangannya nanti, saat memasuki usia 10 tahun, Tsaqif harus kembali menjalani operasi yang kedua kali. Operasi untuk memasang selang baru yang berfungsi membuang cairan dari otak ke usus. “Selang itu akan terpasang permanen,” katanya.

Selain memberikan perhatian secara medis, tim dokter RSUP dr Sardjito pun melakukan saweran untuk membantu Tsaqif, yang kini telah yatim piatu. Selama sebulan, terkumpul uang Rp 140 juta. Uang itu, telah serahkan ke rekening sang kakak, Wildan Aprila. “Semoga bisa digunakan untuk biaya sekolah,” jelasnya.

Sementara itu sang paman Kantun Basuki mengatakan, sudah hampir tiga hari, Tsaqif mengonsumsi ASImenggunakan dot. Sebelumnya, ASI dimasukan melalui sonde.

ASI diambilkan dari sejumlah pendonor yang ada di Jogjakarta.

Keluarga sengaja tidak memberikan asupan susu lain selain ASI. Untuk mempercepat kesembuhan Tsaqif.

Setelah pulang, Tsaqif akan dirawat oleh keluarga besar yang ada di kediamannya di Mancasan, Wirobrajan.

“Kami bersama-sama keluarga besar akan merawat Tsaqif,” ujarnya.(bhn/yog/ong)