RADARJOGJA.CO.ID –Harga komoditas daging sapi di Gunungkidul turun drastis dalam sepekan terakhir. Daging segar sapi yang dikenal mahal dan nyaris tidak terbeli, mendadak anjlok hingga 50 persen.

Turunnya harga daging sapi ini terpantau di pasar tradisional terbesar Gunungkidul, Pasar Argosari Wonosari. Sejumlah pedagang mengatakan, penjualan daging sapi menurun derastis. Mereka tak tahu persis penyebab penurunan harga tersebut. Namun faktanya daya beli masyarakat menurun.

“Penurunan harga daging sapi mencapai 50 persen,” kata Boyem, salah satu pedagang, Senin (23/1).

Ia melanjutkan, pada hari normal biasanya dalam satu hari mampu menjual hingga 10 kilogram. Belakangan ini, dalam sehari penjualan tak lebih dari lima kilogram. Boyem mengakui tak tahu persis anjloknya harga daging sapi dipengaruhi isu visrus antraks di Kulonprogo.

“Sejak beredar isu (antraks), belakangan penjualan daging sapi menurun derastis. Mungkin saja karena daya beli masayarakat menurun,” katanya.

Ditambahkan Boyem, persoalan ekonomi belakangan kompleks. Misal, kenaikan tarif dasar listrik dan pajak. Otomatis, biasanya setiap ada kenaikan kebutuhan masyarakat mulai menyesuaikan, sehingga lebih fokus pada kebutuhan pokok.

“Meski daging sapi sekarang Rp 120 per kilogram, tetap saja mahal. Karena nyaris secara bersamaan ada kenaikan kebutuhan lain,” ucapnya.

Ia menduga, anjloknya daya beli masyarakat juga dipicu cuaca ekstrem. Jika begitu, pedagang kesulitan. Pedagang daging sapi yang lain, Karni yakin penurunan harga daging bukan lantaran isu antraks. Keyakinan tersebut karena pasokan daging disuplai dari lokal. Yakni, wilayah Kecamatan Semanu.

“Tidak ada tanda-tanda adanya virus antraks. Saat disembelih, warna dan bentuk fisik daging wajar seperti daging segar biasa,” kata Karni.

Bupati Gunungkidul Badingah serius merespons isu antraks. Ia langsung mengintruksikan pada instansi terkait agar melakukan pengawasan intensif lalu lintas ternak sapi. Tujuannya, tidak masuk ke Bumi Handayani sembarangan. “Lebih baik sejak awal diantisisipasi,” kata Badingah.(gun/hes)