RADARJOGJA.CO.ID – Ditemukan bebatuan yang diduga reruntuhan candi di Lereng Gunung Merapi. Tepatnya di Dusun Ngandong, Ngargomulyo, Dukun, Kabupaten Magelang. Titemukan sekitar 15 bongkahan bebatuan pada kedalaman tanah sekitar 0,8 meter.

Diduga, dalam radius 50 meter temuan itu, juga masih ada bebatuan yang tertimbun tanah perkebunan. Dilokasi temuan, kini juga dipasang garis polisi mengitari bebatuan. Lahan tersebut merupakan milik Sarmi warga Ngandong dan Topo warga Desa Kalibening.

“Saya sudah 11 tahun menjadi kadus, baru kali ini ada penemuan benda-benda tersebut,” kata Kadus Ngandong, Suratno, 58 tahun.

Awalnya, bebatuan itu ditemukan oleh Dwiyatim Mantora yang berdomisili di Kecamatan Muntilan. Ia datang bersama rekannya dan mengajak warga sekitar menggali lahan perkebunan di Dusun Ngandong, Desa Ngargomulyo. Tidak butuh waktu lama, dengan peralatan linggis dan cangkul, warga bisa menemukan bebatuan yang diduga candi tersebut.

“Penemuan bebatuan di lahan cabai ini pada Rabu (18/1) lalu,” tuturnya.

Kadus tidak mengetahui persis batu apa yang ditemukan. Hanya saja, dia berharap ke pemerintah agar segera menindaklanjuti temuan itu.

“Harapannya bisa mengarah ke obyek pariwisata,” harapnya.

Terpisah, Dwiyatim Mantora mengaku, dirinya memang sengaja mengajak warga dan kadus untuk menggali lahan perkebunan di Dusun Ngandong. Tora yang mengaku dari Peneliti dan Pemerhati Budaya Sastro Jendro Hayuningrat Solo ini, bisa mengetahui karena dari prasasti yang ia pelajari. Yaitu, prasasti Tihang yang ditemukan di Kecamatan Srumbung dan Salingsinga (Dukun).

“Intinya prasasti ini menceritakan soal tempat suci dan persawahan bebas pajak di Jaman kerajaan dulu. Saya juga sudah berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah,” ungkap Tora.

Sementara itu, Kepala Pokja Perlindungan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Sugeng Widodo mengaku belum mengetahui terkait temuan itu. Ia meminta temuan bebatuan yang diduga candi itu untuk diamankan. Jika sudah ada laporan masuk, ia pun segera meninjau lokasi kejadian.

“Tolong (bebatuan) jangan diangkat dulu, didata ada di titik-titik mana saja,” katanya.

Menurut dia, temuan bebatuan seperti ini tidak hanya kali ini saja. Sebelumnya juga sempat ditemukan bebatuan di sekitar Lereng Merapi, persisnya di Kecamatan Dukun. Bebatuan itu diantaranya Lingga, yang merupakan tempat peribadatan umat Hindu. Jika memang di kawasan Merapi ditemukan dan terbukti tempat peninggalan sejarah yang besar, tidak menutup kemungkinan sekitar lokasi bisa menjadi obyek wisata.

“Bisa saja menjadi obyek wisata, tapi harus melalui penelitian dulu. Kita tinjau dan upaya penyelamatan lebih lanjut. Nantinya harus kita rencanakan dahulu,” tandasnya. (ady/dem)