Curiga, Keluarga Syaits Lakukan Otopsi

RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Pendidikan Pelatihan Dasar (Diksar) Mapala UII Jogjakarta memakan korban. Tercatat dua orang, yakni Syaits Asyam, 19, dan Muhammad Fadli, 20, tewas setelah menjalani diksar di camp Pranten/Mrutu, Dusun Tlogodringo, Gondosuli, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Kedua mahasiswa jurusan Teknik Industri angkatan 2015 UII Jogjakarta ini berangkat 11 Januari lalu bersama rombongan Mapala UII.

Pakde almarhum Syaits Asyam, Seno Aji, 49, menuturkan keponakannya dibawa ke RS Bethesda Sabtu pagi (21/1). Seno menjelaskan, dokter di rumah sakit mengatakan nyawa Asyam, sapaan keponakannya, sudah tidak tertolong.

“Waktu saya datang masih terpasang alat bantu pernapasan. Sayangnya, kabar ini justru tidak dikabarkan oleh teman mapalanya sendiri,” kata Seno ditemui di rumah duka di Jetis, Caturharjo, Sleman, kemarin(22/1).

Seno menuturkan, ada kejanggalan dari kematian keponakannya ini. Di antaranya banyak memar ditemukan di tubuh Asyam. Mulai dari bawah selangkang kanan, punggung dan lecet di kedua tangan.

Atas dasar ini pula, ayah korban, Abdullah meminta adanya otopsi di RSUP dr Sardjito. “Kalau kata teman saya, lukanya seperti sabetan rotan, karena cirinya sama. Itu pun seperti luka empat harian. Lalu kuku jempol kedua kakinya juga copot,” ujarnya.

Seno sendiri tidak menyangka Asyam menjadi korban diksar mapala. Dia memang mengetahui bahwa sang keponakan akan naik gunung. Tapi dia tidak menyangka kegiatan yang diikuti adalah diksar.

“Sepengetahuan saya baru pertama kali dia ikut naik gunung seperti ini. Makanya sebelum berangkat dia izin juga ke saya. Ternyata malah jadinya seperti ini,” katanya.

Seno menyesalkan belum ada konfirmasi dari pihak Mapala UII. Dia mengaku pihak ketua Mapala UII maupun penyelenggara diksar belum menemui keluarga. Informasi Asyam masuk RS Bethesda justru didapatkan dari teman kuliah keponakannya.

Berdasarkan info sementara yang dia terima, Asyam mengalami gagal napas. Hal ini diduga karena suhu lokasi diksar yang cukup dingin dan beratnya aktivitas. Seno juga sempat mendengar selentingan adanya aksi kekerasan selama diksar berlangsung.

“Rektor UII datang ke sini Sabtu malam. Cuma dari mapala memang belum menemui saya. Pak rektor sempat berujar tidak mengetahui ada agenda itu (diksar mapala),” katanya.

Sang ibu, Handayani, mengaku sangat kehilangan anak semata wayangnya. “Kemarin lihat di TV ada kekerasan yang dilakukan senior di sebuah sekolah. Lha kok malah hal ini menimpa anak saya,” ungkapnya sembari berurai air mata.

Handayani menyesalkan kejadian ini, terlebih dia baru diberi tahu pihak mapala Sabtu (21/1) pukul 11.00. Pihak mapala menyatakan bahwa Asyam masuk ke rumah sakit sejak pukul 5.00. “Anak saya meninggal pukul 14.30 pada Sabtu,” jelasnya.

Handayani menuturkan, dia masih sempat ngobrol dengan Asyam. Saat itu, Asyam cerita kalau ada kekerasan saat diksar, bahkan ada satu temannya yang meninggal dan sudah dibawa ke Batam. Asyam juga sempat meminta maaf kepada Handayani.

“Saya masih diberi rezeki untuk ketemu Asyam dan menuntunnya saat sakaratul maut,” ujarnya.

Handayani mengungkapkan, luka yang dialami anaknya di tangan terdapat lecet-lecet. Dari pihak mapala menyatakan karena Asyam terpeleset dan jatuh.

“Yang saya sesalkan kok tidak diberitahukan ke keluarga sebelumnya, kejadiannya sudah tiga hari lalu sebelum Asyam dibawa ke RS Bethesda,” keluhnya.

Handayani menuturkan, Asyam memang punya niat untuk masuk mapala tahun lalu. Kala itu Handayani berujar bawah ikut mapala itu sangat berat, dan sebaiknya tidak ikut saja. “Tapi ternyata tahun ini dia masuk mapala. Katanya ingin ikut latihan beberapa hari saja, ternyata sampai ke Lawu,” ungkapnya.

Menurut Handayani, Asyam merupakan sosok anak yang periang. Lulusan SMA Kesatuan Bangsa ini tidak memiliki riwayat penyakit yang berat.

Sementara itu, jenazah Asyam harusnya dimakamkan kemarin pukul 13.00. Para pelayat pun sudah berdatangan. Namun, diundur karena adanya permintaan otopsi kedua orang tua Asyam. Pemakaman diundur pada malam harinya setelah jenazah diantar dari RSUP dr Sardjito. “Kalau lancar pukul 19.00, sambil menunggu hasil otopsi di Sardjito,” jelasnya.(dwi/adi/ila/ong)