RADARJOGJA.CO.ID – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinaskertrnas) Gunungkidul mengalokasikan anggaran program bedol deso hingga Rp 500 juta. Dana tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan kuota peserta transmigrasi.

“Anggaran transmigrasi tidak berkurang. Dinaskertrans tetap menganggarkan untuk kebutuhan 40 kuota. Yakni, sebesar Rp 500 juta atau setengah miliar,” kata Kepala Bidang Transmigrasi Disnakertrans Gunungkidul Basuki, Minggu (22/1).

Basuki melanjutkan, plafon anggaran tersebut di dalamnya termasuk biaya akomodasi sebesar Rp 480 ribu per orang. Jumlah dana tersebut dianggap mencukupi. Asumsinya, kuota 30 atau 35 orang. Jika jumlah kuota lebih dari 40 orang, pihaknya akan mengajukan anggaran perubahan di November.

“Semoga disetujui, karena anggaran digunakan untuk keberangkatan transmigran,” ujarnya.

Menurutnya, Pulau Sumatera dan Kalimantan masih menjadi daya tarik utama tujuan transmigrasi asal Gunungkidul. Namun, tahun ini pemerintah pusat lebih memprioritaskan daerah perbatasan sebagai lokasi tujuan.

“Pemerintah pusat punya kebijakan untuk memprioritaskan transmigrasi bukan lagi di Sumatera, melainkan daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan negara lain,” tegasnya.

Komposisi lokasi transmigrasi sendiri untuk wilayah perbatasan sebesar 75 persen. Sedangkan daerah lain 25 persen. Meski begitu, pemerintah pusat belum memberikan angka pasti kuota transmigrasi. Dikatakan, kepastian kuota baru diberitahukan pada Maret mendatang. “Perolehan kuota masing-masing daerah tergantung kesiapan daerah tujuan transmigrasi, sehingga berpengaruh pada jumlah kuota itu sendiri,” ucapnya.

Dikatakan, ata-rata peminat transmigrasi di Gunugkidul ada 60 kepala keluarga (KK). Namun rata-rata yang bisa diberangkatkan hanya 40 KK. Pada 2016, mendapatkan kuota untuk 40 KK. Akhirnya yang bisa diberangkatkan hanya 37 KKdengan total 171 jiwa.

Kepala Dinaskertrans Kabupaten Gunungkidul Dwi Warna Widi Nugraha mengatakan, alasan calon transmigran memilih Kalimantan dan Sumatera karena pertimbangan lahan. Di sana, mereka mendapatkan dua hektare lahan dan jatah hidup per bulan. “Motivasi lain karena ada sanak famili yang lebih dulu transmigrasi di Sumatera dan Kalimantan,” kata Dwi Warna.(gun/hes)