RADARJOGJA.CO.ID – Rencana pembangunan bandara di Temon menjadi magnet bagi pengusaha. Salah satunya munculnya bangunan liar di Pantai Glagah. Selain warga terdampak bandara, ternyata pemilik penginapan liar sebagian dari luar Kulonprogo.

“Informasinya ada juga (pemilik penginapan liar) dari Bantul,” kata Astungkoro kemarin.

Asisten II Setda Kulonprogo Triyono mengatakan pemilik bangunan liar didominasi warga Glagah dan warga terdampak bandara. Mereka beralasan ingin membangun penginapan pasca lahannya tergusur.

Padahal pemkab meminta pembangunan penginapan liar dihentikan. Karena lahan yang digunakan menyalahi aturan dan peruntukannya.

“Kami juga sudah pasang papan larangan. Warga juga sudah diberi surat peringatan. Jika tetap membandel akan ada tindakan lebih tegas lagi,” kata Triyono tanpa merinci tindakan tegas itu berupa apa.

Ketua Pokdarwis Desa Glagah Sumantoyo mengatakan pelaku wisata terdampak bandara paham jika areal tersebut terlarang. Jika membangun penginapan harus seizin pemkab.

Namun, dia mengakui ada beberapa pelaku wisata terdampak bandara yang punya lahan di areal sempadan tersebut. Punya kapling tanah di sana, tetapi tidak banyak dan belum dibangun. Jika ada yang membangun, baru pondasi dan dikerjakan setahun lalu.

“Saya pastikan tidak ada satupun pelaku wisata terdampak bandara yang ikut mendirikan bangunan liar tersebut,” kata Sumantoyo.

Pelaku wisata terdampak bandara akan menempuh jalur resmi. Mayoritas pemilik bangunan liar tersebut merupakan warga terdampak bandara yang sebelumnya tidak memiliki penginapan.

“Warga tersebut sebelumnya hanya berdiam di lahan terdampak bandara. Lalu punya banyak uang dan membeli kaplingan dan dijadikan penginapan. Lokasinya hanya berjarak 15 meter dari bibir pantai,” kata Sumantoyo. (tom/iwa/mar)