Tahu Kapan Harus menjadi Bapak, Guru, atau Komandan

Tegas tapi senang bercanda, supel, dan bisa menempatkan diri dalam situasi tertentu. Itulah pribadi Letkol Arm Djoko Sujarwo, perwira menengah dengan dua melati di pundak, yang kini menjabat Komandan Kodim 072/Sleman.

YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman

Mendung menggelayuti sebagian wilayah pusat pemerintahan Kabupaten Sleman. Tak lama kemudian, gerimis mulai membasahi jalanan beraspal. Saat itu sebagian tim relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman bersama anggota TNI sedang mengevakuasi pohon-pohon tumbang akibat terjangan angin di sekitar Embung Tridadi.

Di depan embung tampak mobil dinas Komandan Kodim 072/Sleman terparkir. Tepatnya di halaman depan Markas Koramil Sleman. Sekilas tampak ada pembicaraan serius antara Letkol Arm Djoko Sujarwo dengan Komandan Koramil Sleman Kapten Inf Kamdiyo dan Komandan Koramil Ngemplak Kapten Inf Sujud.

Awalnya, Radar Jogja yang bermaksud menemui Kapten Kamdiyo cukup ragu untuk masuk markas. Maklum, ada komandan kodim di situ. Keraguan itu segera sirna ketika Kapten Kamdiyo memberikan isyarat melalui nako jendela kaca agar Radar Jogja masuk ke markas. Bahkan, mantan Pasiter Kodim Sleman itu segera keluar markas untuk menjemput dan menyilakan masuk. Untuk diperkenalkan kepada Letkol Djoko Sujarwo. “Halo, saya Djoko,” ucap Dandim Sleman itu memperkenalkan diri seraya menyodorkan tangan kanannya.

Sejurus kemudian, Kapten Kamdiyo memperkenalkan alumnus Akmil 1998 yang kala itu duduk di kursi sisi utara ruang tamu Danramil. “Beliau ini komandan kodim. Belum kenal,kan,” ungkapnya.

Senyum sapa Letkol Djoko pun mengembang memecah suasana. “Panggil Djoko saja. Tak usah sungkan,” pinta pria asal Kampung Bogeman, Kota Magelang, Jawa Tengah itu.

Perwira yang sebelumnya menjabat Komandan Rayon Armed 3 Magelang itu memang tak ingin saklek dengan jabatannya. Hal itu pula yang seakan memperpendek jarak antara atasan dan bawahannya di Kodim Sleman. Obrolan dengan Kapten Kamdiyo pun terkesan santai.

“Kebetulan saya sedang keliling. Memantau evakuasi terdampak bencana. Banyak anggota kami yang terjun membantu petugas BPBD,” ucap alumnus SMAN 4 Magelang angkatan 1994 itu menjelaskan.

Sudah 11 bulan Djoko bertugas di Sleman. Selama itu pula dia terus menjajaki wilayah ketugasannya, yang memang rawan bencana. “Prinsip kami siap membantu masyarakat. Personel kodim siap kapan saja dikerahkan untuk evakuasi bencana,” ujarnya.

Nuansa markas Kodim Sleman memang berbeda sejak kepemimpinan Djoko. Dia sengaja membuka pintu selebar-lebarnya untuk masyarakat. Hal itu sekaligus menepis kesan bahwa TNI adalah sosok yang angker dan ditakuti. “Hahaha‚Ķitu sudah bukan zamannya lagi. Kami justru ingin menjadikan markas kodim sebagai rumahnya masyarakat Sleman. Silakan datang. Silakan datang. Kami siap membantu,” papar bapak dua putera itu.

Djoko memang tak ingin tampak angker bagi masyarakat. Diapun tak suka kelihatan garang di depan anggotanya. Namun, soal ketegasan, jangan ditanya. Meski menganggap semua anggotanya sebagai teman dan keluarga, bukan berarti mereka bisa berbuat seenak sendiri. “Kedekatan dengan anggota itu penting. Tapi harus balance. Reward and punishmen harus tetap jalan,” tegasnya sambil tersenyum.

Bagi Djoko, hal terpenting sebagai seorang pemimpin haruslah bisa menempatkan diri. Kapan harus menjadi bapak. Bilamana saat menjadi komandan, dan saat menjadi guru, baik di hadapan anggota, teman, dan masyarakat. “Semua peran itu harus dimainkan, hehehe,” selorohnya.

Mengenai ketugasan, prajurit yang pernah bertugas di Rindam 6 Tanjungpura, Banjarmasin itu tetap konsen pada program markas besar TNI. Yakni, menyukseskan program Upaya Khusus Padi Jagung dan Kedelai, hasil kerja sama dengan Kementerian Pertanian. Fokus pendampingan petani untuk meningkatkan hasil panen. Juga menyukseskan program keluarga berencana kesehatan.(yog/ong)