RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Konflik pertanahan terjadi antara warga sipil dengan TNI. Sengketa tanah ini terjadi di atas dua bidang tanah bekas asrama Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) yang berada di Jalan Kaliurang KM 4,5, Desa Caturtunggal, Depok, Sleman.

Kedua belah pihak, yaitu TNI AD dan Lie Fong Moij mengklaim sama-sama memiliki bukti hak atas tanah seluas 3.000 meter persegi tersebut. “Klien kami Nyonya Lie Fong Moij sudah mengantongi sertifikat hak guna bangunan (HGB) atas tanah tersebut pada 13 November 2006,” kata Layung Purnomo SH MH, tim penasihat hukum Lie Fong Moij, didampingi Yacob Richwanto SH dan Sudjadi Wisnu Murti kemarin (16/1).

Layung mengatakan, kliennya mengantongi HGB setelah membeli dua bidang tanah tersebut dari sang pemilik tanah, yaitu Nasib Subekti dan Ngudirejo.

Namun, sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 2016 ada oknum yang dengan sengaja memasang papan pengumuman bertuliskan “Tanah Ini Milik TNI AD, No. Reg 307320026, Tanah Ini Akan Dibangun Rumdis TNI AD” di atas lahan tersebut. “Kami tidak tahu siapa yang memasang papan tersebut, tiba-tiba saja muncul papan tersebut,” terang Layung.

Melihat kenyataan itu, Lie Fong Moij lantas melaporkannya ke Denpom Jogjakarta. Namun, laporan tersebut tak pernah ada tindak lanjutnya. Lantaran tidak diketahui siapa nama oknum yang memasang papan tersebut.

Di sisi lain, Layung mengakui, pada 2006 tanah tersebut sempat menjadi objek sengketa antara Kodam IV Diponegoro dengan Nasib Subekti dan Ngudirejo. Atau sebelum Lie Fong Moij mempunyai HGM atas tanah tersebut.

Perselisihan diselesaikan melalui jalur hukum di Pengadilan Negeri (PN) Sleman. Setelah melalui proses persidangan, majelis hakim memenangkan gugatan Nasib Subekti dan Ngudirejo, sebagai ahli waris sah atas tanah tersebut. “Pada 24 April 2006, PN Sleman melakukan eksekusi atas dua bidang tanah tersebut. Surat pemberitahuan eksekusi juga ditembuskan ke Kodam IV Diponegoro Semarang,” jelas Layung.
Nah, karena Lie Fong Moij akan melakukan pembangunan, Layung kemudian memasang papan pengumuman di atas tanah tersebut kemarin (16/1). Papan pengumuman bertuliskan “Tanah Ini Telah Dieksekusi Berdasarkan Berita Acara Eksekusi No. 18/Pdt.G/2005/PN Slmn Jo No.03/Pdt.E/2006/PN. Sleman dan No. 19/Pdt.G/2005/PN.Slmn Jo No.04/Pdt.E/2006/PN.Slmn”. Hal itu dilakukan supaya masyarakat mengetahui bahwa tanah tersebut bukan lagi milik TNI, melainkan telah beralih ke Lie Fong Moij. ” Mulai sekarang TNI tidak boleh menempati tanah ini,” tambah Yacob.

Menanggapi persoalan tersebut, Danden Zibang Jogjakarta Letkol Czi Tri Wahyono mengakui adanya silang sengketa atas tanah yang ada di wilayah Kentungan itu. Menurutnya, baik TNI AD maupun pihak yang mengaku sebagai pemilik, sama-sama memiliki bukti. ” Kami akan laporkan masalah ini ke pimpinan,” katanya. (mar/yog/ong)