RADARJOGJA.CO.ID – Kepala Desa Glagah Agus Pramono mengatakan memang ada bangunan baru yang berdiri menggunakan lahan sempadan pantai. Kapling-kapling baru terus bermunculan. Dia melarang pembangunan tersebut. Namun kewenangan penertibannya ada di pemkab.

“Semuanya sudah diundang pemkab karena melanggar. Namun bagaimana kelanjutannya? Kami belum tahu,” kata Agus.

Pemdes Glagah berharap pemkab segera menata dan memoles Pantai Glagah. Sebagai kawasan pariwisata, penataan Glagah dipandang sebagai cara terbaik mengantisipasi semakin banyak bermunculannya bangunan-bangunan liar.

“Jika memungkinkan dan tidak mengganggu operasional bandara di kawasan Glagah, Pemdes bersedia menyediakan tanah kas desa. Kalau tidak mengganggu KKOP (Kawasan Keselamatan Operasional Bandara), kami siap berikan fasilitas tanah kas desa untuk masyarakat. Kami punya beberapa hektare di situ,” kata Agus.

Sementara itu, Asisten II Setda Kulonprogo Triyono menegaskan belum memproses keinginan pelaku wisata yang ingin direlokasi ke lokasi tertentu. “Jika memang ingin pindah, sebaiknya beli saja,” tegas Triyono.

Pemerintah masih fokus untuk warga yang huniannya terdampak bandara. Salah satunya dengan proses pembangunan lahan relokasi.

Beberapa waktu lalu memang sempat dilakukan pertemuan antara pelaku wisata dengan Pemkab Kulonprogo, namun saat itu pelaku wisata meminta dipindah ke tanah kas Desa Sindutan yang strategis untuk melanjutkan usaha.

Namun, penggunaan lahan tersebut harus tetap seizin Gubernur DIJ sebagai pemilik tanah tersebut. Paling tidak ada sejumlah tahapan yang harus dilakukan guna lahan tersebut bisa digunakan pelaku wisata.

Keputusan mengenai hal tersebut sepenuhnya ada di tangan Gubernur DIJ untuk kemudian mengizinkan atau tidak menggunakan tanah kas desa tersebut. “Jika izin disetujui, Pemkab Kulonprogo siap memproses,” ujarnya.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Glagah Sumantoyo mengatakan dia dan pelaku usaha lain belum memiliki gambaran mengenai masa depan usahanya. Mereka harus mengontrak rumah untuk dijadikan tempat tinggal.

Sedangkan lokasi usahanya masih belum ada kejelasan. “Karena selama ini lokasi usaha juga sekaligus jadi tempat tinggal kami,” ujar Sumantoyo. (tom/iwa/mar)