RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Keaslian Kompleks Candi Prambanan perlahan mulai dikembalikan seperti asalnya. Terutama keberadaan ratusan candi perwara yang mengelilingi bangunan inti candi yang juga dikenal dengan sebutan Rorojonggrang itu.

Dari 224 candi perwara yang ada, hingga saat ini baru tiga unit yang berhasil dipugar seperti sedia kala. Lamanya proses pemugaran bukan tanpa sebab. Selain memang sulit pengerjaannya, batu-batu penyusun candi banyak yang hilang. Sementara petugas tak bisa menggunakan sembarang batu untuk menyusun sebuah candi. Meskipun wujud dan bentuk candi-candi perwara tersebut sama antara satu dan lainnya.

Ketua Unit Candi Prambanan, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jogjakarta Manggarsari Ayuati menuturkan, butuh waktu sekurang-kurangnya 11 bulan hanya untuk memugar satu candi. Estimasi waktu itupun belum termasuk masa studi kelayakan komponen candi.

“Observasinya bisa lebih lama. Terutama untuk mencari kecocokan bangunan. Sementara semua komponen batu tersebar,” jelas Manggar, sapaan akrabnya, di Kompleks Candi Prambanan kemarin (16/1).

Dikatakan, proses pemugaran harus melalui studi kelayakan dahulu. Sebab, jika komponennya tidak komplit, batu-batuan penyusun candi tidak bisa dipasang. Bahkan, pemugaran kali ini hanya 75 persen batuan yang asli. Kekurangannya dilengkapi dengan batu putih dan andesit.

Manggar menengarai, banyaknya batu penyusun candi yang hilang akibat terbawa banjir pada masa lampau. Selain itu, sebagian batu dimanfaatkan oleh warga sekitar candi untuk keperluan rumah tangga. Paling sering digunakan untuk pondasi bangunan rumah.

“Pada 2015 kami menemukan sekitar 250 blok batu penyusun candi di gorong-gorong SMAN 1 Kalasan,” ungkapnya.

Menurut Manggar, upaya pemugaran candi Hindu itu sudah dilakukan sejak 1937. Dikerjakan oleh Pemerintah Belanda di Jogjakarta. Jumlah candi yang berhasil dipugar hanya dua unit. Candi perwara deret dua nomor 1 dan deret satu nomor 39.

Sejak 2014 BPCB Jogjakarta juga telah berhasil memugar dua candi perwara. Yakni, deret 2 nomor 35 dan 43.

Adapun untuk memugar candi perwara BPCB mengerahkan sedikitnya 80 orang. Mereka berbagi tugas. Dari pengumpulan data, komponten, batuan, hingga pemugaran.

Steller (tukang setel) batu candi Yudi Rohyani, 57, mengungkapkan, setiap batuan candi memiliki karakteristik berbeda. Terutama pada komponen yang berfungsi sebagai kunci atau pengait antarbatuan supaya tidak roboh. Karena itulah pemasangannya tidak bisa asal-asalan.

“Di sinilah letak keunikan candi-candi peninggalan nenek moyang. Tidak ada kunci yang serupa, meski sama-sama jenis candi perwara,” jelasnya.

Yudi lantas menunjuk batu-batuan yang berserakan dan mengumpul di tiap-tiap titik lokasi candi perwara. Batu-batuan tersebut sengaja dikumpulkan terpisah, sesuai komponen penyusun masing-masing. Komponen penyusun satu candi perwara tak bisa dikolaborasikan dengan candi lainnya. “Memang tidak bisa. Karena pasti tidak klop. Bahkan, detail lekuk batunya juga harus sesuai,” ungkap pria yang sudah banyak malang melintang dalam pemugaran candi kuno.

Untuk memperoleh presisi candi, tim pemugar harus mengawalinya dengan menyusun semua komponen di luar pondasi. Tujuannya untuk memastikan letak batu-batu kunci. Disusun mulai bagian kaki, tubuh, kepala, hingga kemuncak (puncak).

Menurut Yudi, tinggi sebuah candi perwara komplit bisa mencapai 14 meter. (dwi/yog/ong)