RADARJOGJA.CO.ID – Wacana Bupati Bantul mendirikan pusat perbelanjaan modern (mal) di Bumi Projotamansari bakal sulit terealisasi. Itu setelah panitia khusus (pansus) rancangan peraturan daerah (raperda) kedua atas Perda No.16/2010 tentang Pengelolaan Pasar sepakat membahas zonasi pendirian mal.

Widodo, salah seorang anggota pansus, mengungkapkan, secara prinsip dewan tak menolak pembangunan mal. Hanya ada syaratnya. Pusat perbelanjaan modern hanya boleh didirikan di area berjarak tiga kilometer di utara Jalan Ring Road Selatan. Padahal, lokasi yang digadang-gadang untuk pendirian mal berada di bekas kampus Sekolah Tinggi Ekonomi Kerjasama (Stikers), yang jaraknya kurang 1 kilometer dari Ring Road.

Dikatakan, munculnya wacana zonasi pusat perbelanjaan modern merupakan bagian dinamika di internal pansus. Tujuannya, demi melindungi pedagang pasar tradisional.

“Jadi, cara mengukurnya dari Ring Road sebagai titik nol. Ditarik ke utara,” jelasnya kemarin (16/1).

Dengan ketentuan tersebut, politikus Partai Golkar ini menilai mustahil pusat perbelanjaan modern maupun mal didirikan di wilayah Banguntapan atau Sewon. Yang paling memungkinkan hanya di wilayah Ngestiharjo, Kasihan. Mengingat, jarak antara Ring Road Selatan dengan wilayah yang berbatasan dengan Sleman itu mencapai lima kilometer.

“Mungkin di sekitar Jalan Godean,” tuturnya.

Kendati ada ketentuan zonasi, Widodo memastikan draf raperda tidak mengatur jarak antara pusat perbelanjaan modern dan pasar tradisional. Dengan begitu, tidak tertutup kemungkinan mal berdekatan dengan pasar tradisional.

“Di Ngestiharjo ada pasar Janten yang paling dekat,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Bantul Subiyanta Hadi enggan berkomentar terkait masalah tersebut.

“Nanti saja kalau sudah final. Wong saya juga baru di sini (Dinas Perdagangan),” ucapnya singkat. (zam/yog/mar)